Namun, tantangan yang mereka hadapi jauh dari sederhana.
Belantara Kalimantan termasuk Kalimantan Barat saat itu masih didominasi hutan lebat.
Baca Juga: Uskup Agustinus Kunjungi Biara Kapusin di Sumatra Utara
Sungai menjadi satu-satunya jalur transportasi menuju pedalaman. Penyakit malaria merenggut banyak nyawa. Kampung-kampung Dayak tersebar jauh satu sama lain. Semua itu justru menjadi ladang pelayanan yang dipilih Pacificus Bos.
Empat tahun kemudian, ia mengambil keputusan yang menentukan arah sejarah.
Pada 1909, pusat misi dipindahkan dari Singkawang ke Pontianak.
Kota di tepian Sungai Kapuas ini dipandang jauh lebih strategis sebagai pusat pelayanan menuju pedalaman Kalimantan. Dari Pontianak, para misionaris kemudian menyusuri sungai-sungai besar, membuka stasi demi stasi, menjangkau masyarakat hingga ke hulu Kapuas.
Di kota inilah pula berdiri Gereja Katedral Santo Yosef sebagai pusat karya misi.
Namun, Pacificus Bos memahami bahwa pewartaan Injil tidak cukup hanya dilakukan melalui mimbar gereja.
Ia percaya bahwa iman harus berjalan bersama pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Sekolah-sekolah rakyat (Volksschooltjes) didirikan, terutama untuk anak-anak Dayak di berbagai wilayah pedalaman.
Ia juga memperjuangkan pelayanan kesehatan modern hingga akhirnya berdiri Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak pada 1928. Bersamaan dengan itu, ia mengundang para Suster SFIC dari Belanda untuk memperkuat pelayanan kesehatan dan pendidikan perempuan di Kalimantan.
Dedikasi itu membuat Tahta Suci mengangkatnya sebagai Vikaris Apostolik pertama Borneo Belanda pada 1918.
Selama hampir tiga dekade, Pacificus Bos membangun fondasi Gereja yang kelak berkembang menjadi sejumlah keuskupan di seluruh Pulau Kalimantan.
Ia wafat di Pontianak pada 21 Maret 1937.