PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Setiap kali melintasi Jalan AR Hakim, Pontianak, tidak banyak orang menyadari bahwa di sebuah kompleks pemakaman Katolik yang teduh beristirahat seorang tokoh yang mengubah sejarah Kalimantan.
Di sanalah Mgr Jan Pacificus Bos OFM Cap dimakamkan.
Makamnya berada di kompleks Pemakaman Katolik, bersebelahan dengan Biara dan Rumah Retret Suster SFIC, hanya beberapa ratus meter dari Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak.
Tempat itu bukan sekadar lokasi peristirahatan terakhir seorang uskup, melainkan monumen sunyi yang menyimpan kisah lahirnya Gereja Katolik di Pulau Kalimantan.
Nama Pacificus Bos mungkin belum sepopuler Romo Van Lith di Pulau Jawa.
Namun, jika Van Lith dikenang sebagai pelopor pendidikan dan inkulturasi Gereja Katolik di Jawa, maka Pacificus Bos layak dikenang sebagai peletak fondasi Gereja Katolik di Kalimantan.
Tanpa dirinya, sejarah Gereja di Bumi Borneo hampir pasti akan berbeda.
Lahir di Uden, Belanda, pada 9 September 1864, Jan Pacificus Bos mengikrarkan hidupnya sebagai anggota Ordo Saudara Dina Kapusin (OFM Cap.).
Setelah ditahbiskan menjadi imam pada 1889, kepemimpinannya membuat ia dipercaya menjadi Provinsial Kapusin Belanda.
Namun, kenyamanan hidup di Eropa ditinggalkannya ketika Tahta Suci membentuk Prefektur Apostolik Borneo Belanda pada 10 April 1905. Wilayah misi yang sangat luas itu dipercayakan kepada Kapusin Belanda, dan Pacificus Bos ditunjuk menjadi pemimpin pertamanya.
Pada 16 Oktober 1905, ia bersama empat imam dan dua bruder meninggalkan Tilburg.
Setelah menempuh perjalanan panjang melalui Terusan Suez dan Batavia, rombongan kecil itu akhirnya tiba di Singkawang pada 30 November 1905.
Hari itu menjadi tonggak sejarah. Untuk pertama kalinya, misionaris Kapusin menginjakkan kaki di Indonesia.