Nama-nama seperti Anton Willem Nieuwenhuis, Bernard Sellato, hingga Hedda Morrison, menjadi bagian dari jejak panjang dokumentasi tentang Dayak dari perspektif luar.
Namun pameran ini tidak berhenti pada nostalgia budaya.
Ada kegelisahan zaman yang ikut dibawa ke dalam halaman-halaman buku itu.
Tentang hutan yang berubah, ekspansi sawit dan tambang, perubahan sosial, hingga tantangan generasi muda Dayak di era digital.
Karena literasi, pada akhirnya, bukan hanya soal membaca.
Ini adalah cara sebuah masyarakat mempertahankan ingatan dan menentukan arah masa depannya.
Selama dua hari penyelenggaraan, lobi kampus berubah menjadi ruang perjumpaan.
Mahasiswa, guru, dosen, penulis, pegiat budaya, dan masyarakat umum datang silih berganti.
Mereka tidak hanya membeli buku, tetapi juga bertukar cerita, berdiskusi, dan merayakan kebanggaan yang sama: bahwa Dayak kini semakin percaya diri berbicara melalui tulisan.
Di tengah derasnya dunia digital, pameran itu seperti mengirim pesan sederhana namun kuat — bahwa buku masih punya tempat penting dalam menjaga peradaban.
Dan di Sekadau, buku-buku Dayak akhirnya menemukan rumahnya sendiri.
Ketua panitia Masri Sareb Putra mengatakan, sebagai sebuah awal mula, the 1st International Dayak Book Fair ini wajib dilaksanakan yang ke-2 dengan menjual buku-buku juga.
"Ternyata banyak peserta yang ingin membeli," kata penulis sangat produktif tersebut.
"Kepada GCUKK (Gerakan CU Keling Kumang) dan Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), saya berterima kasih banyak, " kata Masri Sareb Putra.
Ia menambahkan begitu besar kontribusi GCUKK dan ITKK. Antara lain menyediakan aula dan perlengkapannya secara percuma. ***