Tradisi tutur perlahan bersentuhan dengan dunia tulis.
Apa yang dahulu hanya diingat, kini mulai didokumentasikan.
Apa yang selama ini hidup dalam percakapan, mulai dibukukan.
Di situlah pameran ini menemukan maknanya.
Baca Juga: Kapolri Ungkap Permintaan Petani ke Prabowo, Mulai dari KUR hingga Bantuan Alsintan
The 1st Dayak Book Fair menjadi ruang pertemuan antara tradisi lama dan kesadaran baru tentang pentingnya literasi.
Buku tidak lagi dipandang sekadar benda cetak, melainkan medium untuk menjaga identitas sekaligus membangun masa depan.
Karena itu, tidak semua buku dapat dipamerkan.
Ada kurasi yang ketat.
Buku-buku yang hadir harus memiliki hubungan kuat dengan Dayak — baik ditulis oleh orang Dayak sendiri maupun berbicara tentang kehidupan dan kebudayaan Dayak.
Panitia menyebutnya sebagai “denyut Dayak”. Sebuah ruh yang harus terasa di dalam setiap halaman.
Kategori pertama memberi tempat khusus bagi karya penulis Dayak.
Dari buku sejarah, esai budaya, penelitian, hingga novel dan puisi.
Semua dipandang sebagai suara dari dalam. Suara orang Dayak yang menarasikan dirinya sendiri, bukan lagi sekadar menjadi objek cerita orang lain.
Di sudut lain, hadir pula buku-buku karya peneliti dan penulis luar yang selama puluhan tahun mendokumentasikan Borneo dan masyarakat Dayak.
Artikel Terkait
Para Cendekiawan Dayak Kumpul di Pontianak! ICDN Kalbar Gelar Muswil II, Gubernur dan Ketum DPN Lantik Pengurus Baru
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo
Kado Natal untuk Putra Dayak Kanayatn! Dari Landak ke Papua Barat, Damianus Dedy Susanto Naik Pangkat Jadi Kombes Polisi
Lasarus Raih Keling Kumang Award 2026 sebagai Tokoh Iban Inspirator
Dari Sekadau, Lasarus Kirim Sinyal Kuat soal UU Masyarakat Adat
Rekor MURI hingga Isu Identitas Warnai Kongres Literasi Dayak Internasional di Kalbar