PONTIANAKGLOBE.COM, SEKADAU -- Pagi di Sekadau belum benar-benar ramai ketika buku-buku itu mulai ditata di lobi Gedung Rektorat Institut Teknologi Keling Kumang.
Sampul-sampul dengan motif etnik, judul-judul tentang hutan, sungai, rumah panjang, sejarah leluhur, hingga kisah-kisah dari pedalaman Borneo berjajar perlahan di atas meja pameran.
Baca Juga: Rekor MURI hingga Isu Identitas Warnai Kongres Literasi Dayak Internasional di Kalbar
Di ruangan itulah, untuk pertama kalinya, sebuah etnik di Indonesia menggelar pameran bukunya sendiri dalam skala internasional.
Namanya The 1st Dayak Book Fair.
Digelar pada 15–16 Mei 2026 di Sekadau, Kalimantan Barat, kegiatan ini bukan sekadar agenda literasi biasa.
Ia terasa seperti sebuah penanda zaman.
Sebuah pernyataan bahwa masyarakat Dayak mulai menulis dirinya sendiri, merekam ingatan kolektifnya sendiri, lalu memamerkannya dengan bangga kepada dunia.
Di balik rak-rak buku itu, tersimpan perjalanan panjang sebuah identitas.
Bagi masyarakat Dayak, pengetahuan sejatinya telah hidup jauh sebelum hadirnya buku.
Ia tumbuh di ladang, mengalir di sungai, tinggal di rumah panjang, dan diwariskan lewat cerita-cerita lisan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Panduan Lengkap Daftar Bima Mobile Bank Jateng, Simak Cara Aktivasi dan Login
Hutan bukan hanya ruang hidup, melainkan perpustakaan yang menyimpan tanda-tanda kehidupan.
Tembawang bukan sekadar kebun warisan, tetapi arsip ingatan keluarga.
Namun zaman berubah.