PONTIANAKGLOBE.COM, BEKASI -- Insiden tabrakan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) kembali memicu perhatian publik, terutama terkait kemampuan kereta untuk berhenti dalam kondisi darurat.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 20.50 WIB saat KRL berhenti di jalur akibat insiden lain, yakni kereta berbeda yang menabrak mobil di perlintasan. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo yang datang dari arah belakang tidak sempat menghindar hingga menghantam gerbong belakang, termasuk rangkaian khusus wanita.
Baca Juga: Shopping Center Mati Suri, Kini Dibangkitkan Anak Muda
Di tengah perbincangan itu, penjelasan dari seorang masinis, Eka Purnama Nurdiansyah, kembali menjadi sorotan. Ia sebelumnya menjelaskan bahwa kereta api tidak bisa berhenti secara mendadak, bahkan ketika sistem pengereman sudah diaktifkan.
Melalui simulasi pengereman yang ia bagikan, terlihat bahwa kereta tetap membutuhkan jarak dan waktu untuk benar-benar berhenti, terutama jika melaju dalam kecepatan tinggi.
"Sistem pengoperasian dan reaksi pengereman pada simulator ini sudah diuji dan dibuat mirip dengan aslinya," ujarnya.
"Butuh waktu lama untuk berhenti, artinya, semakin cepat, semakin lama untuk berhenti," tambahnya.
Penjelasan ini memperkuat pemahaman bahwa dalam situasi darurat, masinis memiliki keterbatasan teknis dalam menghentikan laju kereta secara instan.
Eka juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat saat melintasi perlintasan kereta api. Menurutnya, keselamatan bukan hanya tanggung jawab operator, tetapi juga pengguna jalan.
"Saat di perlintasan saja kami waspada teman-teman, walaupun istilahnya ini kami yang punya jalurnya," jelasnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar AI! Telkom Kenalkan Agentic AI yang Bisa Ambil Keputusan dan Bertindak Otomatis
"Jangan menyepelekan saat akan lewat perlintasan kereta api. Kereta api tidak bisa berhenti secara mendadak," tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa faktor keselamatan di perlintasan sangat krusial, terlebih dalam kondisi padat aktivitas seperti jam sibuk. Insiden di Bekasi Timur pun kini menjadi refleksi penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan sistem pengamanan transportasi.***