Shopping Center Mati Suri, Kini Dibangkitkan Anak Muda

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 30 April 2026 | 05:46 WIB
‘Ruh’ Shopping Center Kota Metro, Ditangan Anak Muda Kreatif. (Dok. Istimewa )
‘Ruh’ Shopping Center Kota Metro, Ditangan Anak Muda Kreatif. (Dok. Istimewa )

PONTIANAKGLOBE.COM, LAMPUNG -- Upaya menghidupkan kembali Shopping Center Kota Metro, Lampung, kini digerakkan oleh anak muda kreatif melalui kolaborasi lintas komunitas dan akademisi. Gedung pertokoan yang telah berdiri sejak 1980 itu selama bertahun-tahun mengalami penurunan aktivitas hingga nyaris terbengkalai.

Melalui workshop bertajuk “Ace of Space: Activating Space, Empowering Idea”, Kelompok Keilmuan Desain dan Budaya Visual Program Studi DKV Institut Teknologi Sumatera mengajak komunitas kreatif untuk merancang ide aktivasi ruang di kawasan tersebut. Kegiatan ini juga didukung jejaring Indonesia Creative Cities Network Lampung.

Baca Juga: Korban Tewas Bertambah Jadi 15, Fakta Terbaru Tragedi Bekasi

Shopping Center Metro sendiri menyimpan memori kolektif warga, namun terdampak berbagai dinamika, mulai dari gejolak sosial-politik hingga perubahan pola belanja digital pasca pandemi Covid-19. Kondisi ini membuat banyak los kosong, rusak, dan tidak lagi produktif.

Melihat kondisi tersebut, komunitas kreatif di Kota Metro mulai melirik kawasan ini sebagai ruang baru untuk berkarya. Terlebih, selama ini mereka menghadapi keterbatasan tempat untuk mengembangkan aktivitas seni dan desain secara berkelanjutan.

Paguyuban pedagang setempat pun membuka peluang kolaborasi dengan menawarkan los sebagai ruang aktivitas komunitas. Gagasan ini kemudian diperkuat oleh tim riset DKV ITERA yang mendorong lahirnya konsep aktivasi berbasis kolaborasi.

Pemantik diskusi, Jejen Jaelani, menegaskan bahwa kreativitas tidak dapat tumbuh secara individual, melainkan membutuhkan kerja bersama lintas sektor, termasuk pedagang.

“Kreatifitas itu tidak bisa sendiri, ia harus dibersamai, termasuk dengan para pedagang yang ada di sekitar pertokoan ini. Tidak semata dengan komunitas kreatif,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ekosistem kreatif membutuhkan tiga pilar utama: domain (bidang keahlian), ranah (ruang aktivitas), dan pelaku sebagai penggerak.

Sementara itu, Ketua Kelompok Riset DBV DKV ITERA, Namuri Migotuwio, menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada tahap ide.

“Beberapa bulan ke depan setelah kawan-kawan komunitas bermukim kreatif di gedung ini, kita akan coba diskusi lagi, salah satunya bagaimana men-branding gedung ini,” jelasnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar AI! Telkom Kenalkan Agentic AI yang Bisa Ambil Keputusan dan Bertindak Otomatis

Workshop berlangsung dinamis dengan diawali tur mengelilingi area shopping center. Peserta diperkenalkan langsung pada ruang-ruang yang telah mulai dimanfaatkan komunitas kreatif sebagai basecamp kegiatan.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menghidupkan kembali 'ruh' Shopping Center Metro, sekaligus menciptakan ruang baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif lokal dan interaksi sosial masyarakat.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X