pontianak-insights

Ramai Warga Timbun Air Sinkhole, BBPOM Ingatkan Risiko Kesehatan

Selasa, 13 Januari 2026 | 13:04 WIB
Menyoroti fenomena kemunculan sinkhole di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) yang bikin heboh warga setempat. (Dok. Instagram.com/@pembasmii.kehaluan)

PONTIANAKGLOBE.COM, LIMA PULUH KOTA -- Fenomena kemunculan lubang raksasa atau sinkhole di area persawahan Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, mendadak menyita perhatian publik. Lokasi tersebut kini ramai dikunjungi warga dan berubah menjadi tujuan wisata dadakan.

Dalam unggahan akun Instagram @pembasmii.kehaluan, Senin (12/1/2026), disebutkan ratusan orang datang setiap hari untuk menimba air dari dalam lubang tersebut, meski area sekitar sudah dipasang pembatas.

Baca Juga: Abraham Samad Kaget Pandji Dilaporkan, Singgung Bahaya KUHP Baru

Sebagian pengunjung bahkan membawa galon lengkap dengan keran untuk menampung air dan dibawa pulang.

“Setiap hari, ratusan pengunjung datang menimba airnya, meski area sudah dipalang,” demikian keterangan dalam unggahan tersebut.

Sejumlah warga meyakini air yang muncul dari sinkhole memiliki khasiat tertentu bagi kesehatan. Disebutkan pula, sejak pertama kali muncul pada 4 Januari 2026, air dari lubang tersebut sempat berwarna coklat sebelum akhirnya berubah menjadi biru dan terlihat jernih.

Namun di balik kepercayaan itu, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) telah mengingatkan potensi bahaya dari konsumsi air tersebut.

Air sinkhole dikhawatirkan mengandung bakteri, logam berat, hingga zat berbahaya lainnya, terlebih belum pernah melalui uji klinis maupun penelitian medis yang melibatkan manusia.

“Kondisi itu bisa berdampak buruk pada kesehatan jika dikonsumsi,” tulis peringatan dalam unggahan tersebut.

Lantas, bagaimana penjelasan ilmiah di balik kemunculan sinkhole yang menghebohkan warga Situjuah Batua ini?

Berdasarkan laporan National Geographic, sinkhole umumnya terbentuk akibat proses pelarutan batuan dasar di bawah permukaan tanah oleh air hujan yang bersifat asam.

Fenomena ini kerap terjadi di wilayah karst yang memiliki batuan karbonat seperti kapur atau dolomit, serta mineral evaporit seperti garam dan gipsum.

Ketika air tanah meresap melalui celah-celah batuan, proses erosi berlangsung secara perlahan dan membentuk rongga atau gua bawah tanah.

Seiring waktu, partikel tanah ikut jatuh ke dalam rongga tersebut, memperbesar ruang kosong hingga akhirnya lapisan tanah di atasnya runtuh.

Proses ini sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda di permukaan dan bisa berlangsung ratusan hingga ribuan tahun.

Halaman:

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB