“Kurang lebih artinya ‘Aku tidak melupakanmu dan Aku tidak membencimu. Bukankah kamu dulu yatim dan Aku beri kamu rumah?’” jelasnya.
Ia mengenang masa kecilnya sebagai anak yatim.
“Saya kebetulan yatim, ayah saya meninggal saat saya umur 7 tahun dan kami betul-betul tidak punya rumah sampai saya dewasa. Ibu punya rumah setelah kami bisa membelikan Ibu saya rumah. Jadi, saya bilang ‘Oh saya durhaka sama Tuhan, kok merasa ditinggalkan Tuhan?’” sambungnya.
Baca Juga: Medan Tanggap Darurat Banjir: Ribuan Warga Mengungsi, Rico Waas Pastikan BBM Aman
Ira menyebut momen tersebut sebagai titik balik untuk menata kembali harapannya.
“Tapi itulah saya kira ujian manusia yang paling tinggi, antara katanya suruh berharap terus tapi kok nggak dateng-dateng sih?” katanya.
Ia menilai rehabilitasi yang diberikan Presiden Prabowo sebagai jalan pertolongan yang datang di luar dugaan.
“Kejadian ini membuat saya diajari luar biasa, yaitu jangan pernah mendikte Allah karena kita pikir jalannya harus seperti ini Tuhan tapi ternyata Tuhan ngasih melalui Presiden, rehabilitasi,” tuturnya.
“Semuanya diputar ulang, semuanya dikembalikan seperti tidak ada yang terjadi, seperti saya orang yang sama, tidak melakukan kesalahan yang dituduhkan dan pelajarannya ketika Tuhan berkehendak, dalam satu ‘klik’ berubah,” ujarnya.***