pontianak-insights

Ijazah Sehari di Pasar Seni ITB, Bentuk Kritik Keras atas Budaya Jual Beli Gelar di Indonesia

Minggu, 19 Oktober 2025 | 20:58 WIB
Suasana stan penjual ijazah satir bertema “Doktor Sehari” di Pasar Seni ITB 2025 (Dok. Ist)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANDUNG -- Setelah sebelas tahun vakum, Pasar Seni ITB kembali digelar di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 18–19 Oktober 2025. Acara empat tahunan ini kembali memikat ribuan pengunjung dengan deretan stan makanan, produk kreatif, dan beragam pertunjukan seni. Namun, ada satu hal yang paling menyita perhatian tahun ini yaitu sebuah stan yang menjual ijazah.

Stan tersebut berada di area lapangan basket ITB dan diinisiasi oleh Kelompok Keilmuan Literasi Budaya Visual (KKLBV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Mengusung tema “Membukukan Pasar Seni. Menyenikan Pasar Buku”, mereka menjual “ijazah” unik yang tak lain merupakan karya satir terhadap fenomena sosial.

Baca Juga: Buntut Panjang Kasus Timothy Anugerah, DPR Turun Tangan Desak Satgas Kekerasan Kampus Diaktifkan

Ketua KKLBV, Prof. Yasraf Amir Piliang menjelaskan bahwa gagasan menjual ijazah adalah bentuk kritik terhadap maraknya kepalsuan dan lunturnya integritas masyarakat dalam satu dekade terakhir.

“Dari pejabat hingga masyarakat biasa, kejujuran dan integritas mulai hilang. Fenomena jual-beli gelar menunjukkan nilai-nilai akademik sudah dikorbankan demi status,” ujar Yasraf.

Dalam “ijazah” tersebut tercantum nama universitas fiktif, “Institut Pasar Seni Indonesia”, lengkap dengan tanda tangan Prof. Yasraf sebagai rektor dan Prof. Acep Iwan Saidi sebagai dekan “Fakultas Berlaku Sehari”. Ijazah ini berlaku satu hari, diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada pengunjung Pasar Seni ITB 2025.

Prof. Acep menegaskan bahwa ijazah tersebut bukanlah dokumen akademik sungguhan, tetapi juga bukan palsu karena tidak mengaku sebagai ijazah resmi.

“Kami tidak mendaftarkan ijazah ini ke KPU sebagai syarat jadi pejabat publik. Ini satir yang serius. Lucunya, banyak yang antre untuk mendapatkannya. Artinya, publik ikut berpartisipasi dalam kritik ini,” ungkapnya.

Salah satu pengunjung yang membeli ijazah adalah Iwan Pirous, anak dari A.D. Pirous, pendiri Pasar Seni ITB. Ia menilai ijazah merupakan simbol kapital sosial yang sering dianggap lebih berharga dari uang.

“Orang mudah terpukau dengan ijazah tanpa tahu apakah itu asli atau palsu. Tapi menurut saya, ijazah ini justru asli, karena yang menandatanganinya benar-benar ada,” ujarnya sambil tertawa.

Beberapa pengunjung lain juga menanggapinya dengan kelakar.

“Kalau saya beli, bisa jadi presiden enggak?” celetuk seorang pengunjung sambil memegang ijazahnya.

Baca Juga: Rainbow Slide Ketapang Ambruk, Tambah Daftar Kelam Wahana Anak yang Rawan Kecelakaan

Setelah membeli ijazah, pengunjung diajak berpose mengenakan toga dan selempang bertuliskan “Doktor Sehari” atau “Profesor Sehari”, lengkap dengan sesi foto layaknya wisudawan sungguhan. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut berpartisipasi.

“Belum sekolah sudah jadi doktor. Semoga benar-benar bisa sekolah sampai doktor di ITB,” ujar seorang orang tua sambil tersenyum melihat anaknya berpose dengan toga kecilnya.

Halaman:

Tags

Terkini