Strategi Diversifikasi Investasi
Ketidakpastian global masih dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan, dinamika geopolitik, serta inflasi yang bertahan di atas target Federal Reserve.
Di Amerika Serikat, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Maret 2026 tercatat 3,5 persen YoY, lebih tinggi dari target Federal Reserve sebesar 2 persen, sehingga suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama.
Baca Juga: Askiman Bebas dari Seluruh Dakwaan Korupsi Hibah GKE Petra, Hakim Perintahkan Pulihkan Nama Baiknya
Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 5,61 persen YoY pada kuartal I 2026, sehingga membuka peluang bagi investor untuk membangun portofolio terdiversifikasi melalui kombinasi aset defensif dan aset pertumbuhan.
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan, “Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat.
Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang.
Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.”
Salah satu strategi utama investasi dari CIO Office DBS adalah mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif. Hal ini didukung oleh lonjakan permintaan investasi emas global secara nilai sebesar 74 persen YoY pada kuartal I 2026, sementara permintaan emas batangan di Indonesia meningkat 47 persen.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Bank DBS Indonesia menjadi bank pertama yang menyediakan akses ke pasar emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar.
Lebih dari itu, Bank DBS Indonesia terus melanjutkan pertumbuhan yang tangguh didukung oleh 16 produk investasi baru yang telah dikurasi untuk memperkuat ketahanan portofolio nasabah sekaligus memperluas pilihan investasi yang relevan dalam berbagai kondisi pasar.
Bank DBS Indonesia mengintegrasikan insight global dari CIO regional dengan teknologi AI dan machine learning untuk menghadirkan strategi investasi yang dipersonalisasi.
Insight ini disampaikan melalui WhatsApp dan email untuk kemudian didiskusikan bersama Relationship Manager dan disesuaikan secara personal dengan aspirasi nasabah.
Setelahnya, nasabah dapat menindaklanjuti dengan cepat melalui aplikasi DBS digibank yang dapat diakses 24 jam.
Bank DBS Indonesia merupakan bagian dari jaringan kuat DBS Group yang merupakan salah satu pengelola kekayaan terbesar di Asia.
Artikel Terkait
Aturan Baru Kripto Australia Wajibkan Lisensi, Bank Tak Bisa Sembarangan Tutup Rekening
Misteri Kematian Dirut Bank BJB Disorot, Desakan Transparansi Menguat
Desember Panas! Bank Mandiri Luncurkan Obligasi Rp 5 Triliun, Investor Wajib Tahu!
Identitas Warga Dicuri untuk Buka Rekening, Bank Jateng Bungkam Saat Dimintai Penjelasan
Panduan Lengkap Daftar Bima Mobile Bank Jateng, Simak Cara Aktivasi dan Login
Nasabah BCA di Tasikmalaya Kehilangan Rp160 Juta, Begini Kata Bank Terkait Dugaan Akses Mobile Banking