PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Ketika seseorang datang ke fasilitas kesehatan, yang dihadapinya bukan hanya tenaga medis yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Lebih dari itu, dia berharap bertemu dengan pribadi yang mampu mendengar, memahami, dan memperlakukannya sebagai manusia yang utuh.
Baca Juga: RDK LPS: Tingkat Bunga Penjaminan Berlaku Hingga September 2026
Pandangan itulah yang menurut Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Bdn. Agnes Dwiana Widi Astuti, S.SiT., M.Kes, menjadi alasan mengapa filsafat tetap relevan dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya pendidikan kesehatan.
Menurut Agnes, filsafat tidak pernah jauh dari kehidupan tenaga kesehatan karena inti dari profesi kesehatan adalah manusia itu sendiri.
Di balik setiap tindakan medis, terdapat pertimbangan tentang martabat manusia, tanggung jawab moral, dan kepedulian terhadap sesama.
Pemikiran tersebut akan menjadi salah satu perspektif yang hadir dalam Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang akan digelar Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo pada Jumat, 26 Juni 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak itu menghadirkan dua akademisi filsafat terkemuka, yakni Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, dosen STF Driyarkara Jakarta.
Baca Juga: Mengapa Filsafat Masih Penting bagi Generasi Profesional?
Bagi Agnes, tema tersebut menjadi semakin penting ketika dunia pendidikan kesehatan saat ini berada di tengah perubahan besar. Kemajuan teknologi kesehatan berlangsung sangat cepat.
Sistem digital, kecerdasan buatan, hingga berbagai inovasi pelayanan kesehatan terus berkembang dan mengubah wajah profesi kesehatan.
Namun di tengah perubahan tersebut, dia mengingatkan bahwa pendidikan kesehatan tidak boleh kehilangan fokus utamanya, yaitu membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kepedulian terhadap manusia.
“Filsafat itu penting, karena bagaimanapun filsafat berbicara dan dekat dengan kemanusiaan hingga konteks manusia dan kesehatan, kemudian kesehatan dan masyarakat,” ujarnya (25/06).
Menurut Agnes, mahasiswa kesehatan selama masa studinya memang dituntut menguasai berbagai kompetensi akademik dan keterampilan klinis. Mereka belajar memahami tubuh manusia, penyakit, diagnosis, terapi, hingga berbagai prosedur pelayanan kesehatan.
Artikel Terkait
Demi Stabilitas Daerah, Pemuda Katolik Pontianak Dorong Penguatan Sinergi Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar
Gus Miftah Undang Anak Yatim Kristen dan Katolik di Acara Ramadan
Pemuda Katolik Kalbar Gelar Kursus Kepemimpinan Menengah, Wujudkan Kader Politik Berkualitas
Pesan Ketua Komsos KWI: Wartawan Katolik Jangan Terjebak Gaya Medsos, Kembali ke Jati Diri
Pontianak Tuan Rumah Perayaan Komsos Nasional, Gereja Katolik Ingatkan Ancaman AI terhadap Martabat Manusia
Kreator Muda Katolik Belajar Produksi Konten Digital di Pontianak