Dua Hari Bernapas dalam Seni: Catatan Personal dari LCAF #4 Kubu Raya

photo author
Wilhelmus Triputra, Pontianak Globe
- Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:09 WIB
Salah satu penampilan di Langkau Culture Art Festival (LCAF) #4.  (Wilhelmus Triputra)
Salah satu penampilan di Langkau Culture Art Festival (LCAF) #4. (Wilhelmus Triputra)

PONTIANAKGLOBE.COM, KUBU RAYA -- Berada di tengah hiruk-pikuk Langkau Culture & Art Festival (LCAF) #4 sejak hari Sabtu (8/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026) terasa seperti merekam sebuah mahakarya visual dokumenter yang hidup. Dari balik pengamatan Andas,  di lapangan, yang merupakan anggota tim pelaksana mengatakan, setiap sudut Kubu Raya akhir pekan ini menyajikan visual storytelling yang begitu kuat. Semangat "Seni Untuk Banyak Orang: Membagi Tontonan Membangun Tuntunan" benar-benar bukan sekadar jargon yang tertulis di spanduk, melainkan realitas budaya yang bisa disentuh dan dirasakan langsung oleh siapa saja yang hadir.

"Hari pertama menyuguhkan kontras yang sangat indah. Di satu sisi, ada kepolosan dan keceriaan luar biasa dari anak-anak yang memadati area lomba mewarnai dan busana anak tradisional kreasi tenun Nusantara. Melihat wajah-wajah antusias mereka, ada kehangatan tersendiri yang menjalar—mengingatkan betapa pentingnya mewariskan fondasi kecintaan budaya ini kepada generasi penerus," ulas Andas. 

(Wilhelmus Triputra)
Di sisi lain, Panggung Liuk Tengah bergemuruh oleh tensi kompetisi yang membara. Tarung Puisi, sebuah inisiatif luar biasa hasil kerja sama dengan UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat, sukses menyedot 81 peserta dari kalangan pelajar hingga umum. Gemuruh bait puisi yang dilantangkan dengan emosi, disusul oleh perpaduan harmonisasi gerak di Lomba Tari Berpasangan pada malam harinya, benar-benar memanjakan mata dan telinga.

Keletihan menelusuri padatnya jadwal di hari pertama seketika terbayar lunas saat Malam Puncak bergulir di Panggung Langkau pada Minggu malam. Atmosfernya berubah menjadi jauh lebih megah dan intim. Deretan kursi kehormatan malam itu terisi penuh oleh para pemangku kepentingan yang hadir memberikan dukungan nyata, mulai dari perwakilan Pemkab Kubu Raya, Dikbud Provinsi Kalbar, Disporapar Kalbar, Balai Bahasa Kalbar, Disporapar Kubu Raya, hingga tamu istimewa dari Pemkab Mahakam Ulu.

Di tengah rangkaian acara, ada satu momen humanis yang terekam lekat dalam ingatan saya: penyerahan cinderamata dari Pemkab Mahakam Ulu kepada Pemkab Kubu Raya. Pertukaran ini lebih dari sekadar formalitas, melainkan sebuah potret nyata diplomasi dan persaudaraan budaya yang tulus melintas batas daerah.

(Wilhelmus Triputra)
Sajian di atas panggung malam itu adalah puncak dari segala keindahan artistik. Saya dibuat terpaku oleh pertunjukan Alih Wahana Sastra—sebuah mahakarya hasil kolaborasi dengan Balai Bahasa Kalbar. Menyaksikan bagaimana sebuah teks sastra dilebur dan diterjemahkan secara langsung ke dalam seni rupa, teater, tari, dan musik secara bersamaan adalah sebuah pengalaman observasional yang magis. Panggung sastra pun kembali menyita perhatian saat para jawara Tarung Puisi menampilkan karya terbaik mereka di bawah sorot lampu penonton.

Namun, yang paling meninggalkan kesan mendalam dan nuansa eksotis di penghujung malam adalah gemulai memukau Tari Dayak Bahau yang dibawakan langsung oleh delegasi Mahakam Ulu. Malam itu akhirnya ditutup dengan selebrasi penganugerahan bagi puluhan talenta terbaik di berbagai kategori lomba. Melihat raut bangga di wajah para pemenang di atas panggung, tanpa perlu menyebutkan nama mereka satu per satu, menyadarkan saya bahwa LCAF #4 telah menunaikan tugasnya dengan sangat gemilang. Dua hari ini bukan sekadar perjalanan meliput acara, melainkan pengalaman menyusuri denyut nadi kebudayaan kita yang ternyata masih berdetak sangat kencang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wilhelmus Triputra

Tags

Rekomendasi

Terkini

X