“Rumah Hakka menyimbolkan semangat orang Hakka yang punya satu hati. Kami harapkan semangat ini menginspirasi untuk kita semua memiliki kesatuan hati yang sama,” ujar Kadir.
Stephanus Jemmy Fantaw Ketua Komisi Komsos Keuskupan Malang, mengatakan, rumah budaya ini tak hanya memperlihatkan kekayaan tradisi, tetapi juga nilai kebersamaan yang terpelihara.
“Mereka mengembangkan nilai spiritualitas, dan semangat hidup positif, sehingga mempererat persaudaraan. Ini perlu diperkenalkan luas agar menginspirasi di tengah keberagaman Indonesia,” ujar Jemmy.
Setelah dari tempat itu, rombongan bergerak ke Rumah Betang di Jl Sutoyo. Para pemuda menabuh musik tradisional mengiringi penari putri, menyambut dengan ritual menaburkan beras kuning sebagai simbol penerimaan.
Diterima sejumlah pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat dan pengurus Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat (Sekberkesda). Ketua Sekberkesda, Eugene Yohanes Palaoensuka, menjelaskan, Rumah Betang bukan sekadar bangunan tradisional, tetapi simbol kehidupan bersama yang diwariskan turun-temurun.
“Filosofi utama Rumah Betang terletak pada kehidupan komunal dan kebersamaan masyarakat Dayak yang sangat kuat. Sejak lahir hingga menikah, leluhur kami dulu hidup di Rumah Betang,” ujar Eugene.
Keberadaan replika Rumah Betang menjadi cara mengenang kearifan tradisi leluhur dengan harmonisasi antar sesama dan alam. Tidak hanya warisan budaya, tetapi juga pusat kehidupan sosial.
Di Rumah Melayu, dua penari putri menyambut. Seorang pengurus menjelaskan, tarian itu bentuk penghormatan terhadap setiap orang yang berkunjung. Sebelum memasuki balairungsari, pimpinan rombongan menjalani ritual “bepapas”.
Tuan rumah meletakkan kain kuning di kaki Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng dan Lisa A. Riyanto. Beras kuning ditabur ke arah atas, kemudian air mawar diperciki, dioleh ke tangan dan kaki pimpinan rombongan.
Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan, Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, M. Rustam, mengatakan, etnis Melayu memelihafra berbagai tradisi bermuatan nilai kehidupan yang revelan hingga kini. Di antaranya tradisi “saprahan” saat musyawarah menyelesaikan konflik.
Dalam filosofi saprahan, persoalan diselesaikan sambil duduk dan makan bersama. Hidangan disusun dalam nampan besar, orang-orang duduk melingkar.
“Ketika suasana hati tenang dan kebersamaan terjalin, maka persoalan akan lebih mudah diselesaikan dengan musyawarah,” jelas Rustam. ***
Artikel Terkait
Penutupan Temu KOMSOS Regio Kalimantan, Dalam Balutan Rekreasi di Sungai Mahakam
Pesan Ketua Komsos KWI: Wartawan Katolik Jangan Terjebak Gaya Medsos, Kembali ke Jati Diri
Pontianak Tuan Rumah Perayaan Komsos Nasional, Gereja Katolik Ingatkan Ancaman AI terhadap Martabat Manusia
Mgr Didik Ingatkan Komsos Harus Menghadirkan Wajah dan Suara Gereja bagi Masyarakat
Kebisingan Digital, Uskup Didik Ingatkan Komsos Tak Sekadar Pengguna Teknologi
Gempuran Teknologi Kecerdasan Buatan Intai Media Gereja, Pegiat Komsos Harus Berbenah