Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 1 Mei 2026 | 13:24 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)

“Kamu memilih jalan yang mahal.”

“Aku kira itu satu-satunya jalan.”

“Memang,” katanya. “Tapi tidak semua orang tahan membayarnya.”

Hujan mulai luruh, gerimis, seperti sesuatu yang ragu-ragu untuk jatuh.

Aku teringat perjalanan-perjalananku setelah itu. Pesisir Kalimantan yang hutan-hutannya ditumpangkan, kampung-kampung yang kehilangan tanah, laut yang semakin sepi ikan. Aku menulis semuanya, tapi tidak semuanya dimuat. Tidak semuanya boleh diwartakan.

“Kamu masih menulis tentang itu?” tanyanya.

“Masih. Tapi kadang rasanya seperti tonggeret, berisik, tapi tak didengar.”

Ia menggeleng pelan.

“Tonggeret tidak peduli didengar atau tidak. Ia hanya setia pada suaranya.”

Aku terdiam. Kalimat itu seperti kembali menamparku, halus, tapi telak.

***

Lampu-lampu Malioboro memantul di jalan basah. Orang-orang berlarian kecil menghindari hujan.

“Aku jatuh cinta pada kota ini,” katanya.

Aku tersenyum.

“Karena puisinya?”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X