“Kamu memilih jalan yang mahal.”
“Aku kira itu satu-satunya jalan.”
“Memang,” katanya. “Tapi tidak semua orang tahan membayarnya.”
Hujan mulai luruh, gerimis, seperti sesuatu yang ragu-ragu untuk jatuh.
Aku teringat perjalanan-perjalananku setelah itu. Pesisir Kalimantan yang hutan-hutannya ditumpangkan, kampung-kampung yang kehilangan tanah, laut yang semakin sepi ikan. Aku menulis semuanya, tapi tidak semuanya dimuat. Tidak semuanya boleh diwartakan.
“Kamu masih menulis tentang itu?” tanyanya.
“Masih. Tapi kadang rasanya seperti tonggeret, berisik, tapi tak didengar.”
Ia menggeleng pelan.
“Tonggeret tidak peduli didengar atau tidak. Ia hanya setia pada suaranya.”
Aku terdiam. Kalimat itu seperti kembali menamparku, halus, tapi telak.
***
Lampu-lampu Malioboro memantul di jalan basah. Orang-orang berlarian kecil menghindari hujan.
“Aku jatuh cinta pada kota ini,” katanya.
Aku tersenyum.
“Karena puisinya?”
Artikel Terkait
10 Contoh Puisi Sederhana Murid Kelas 1 SD untuk Peringatan Hari Guru yang Ditujukan kepada Ibu Bapak Guru Tercinta
Contoh Puisi Memperingati Hari Guru Nasional
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, agar Perayaan Imlek 2024 Tahun Naga Kayu Semakin Semarak
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, Sederhana Namun Penuh Makna dan Nilai Persahabatan
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Lomba Tarung Puisi Jelang HUT RI Ke-80