Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 1 Mei 2026 | 13:24 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)

Ia menatap gelasnya. “Karena cahaya kecil lebih jujur daripada terang yang dipaksakan.”

Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu yang berubah, bukan pada wajahnya, tapi pada caranya diam. Seperti seseorang yang telah kehilangan banyak hal, lalu berhenti mempertanyakannya.

Pengamen datang bergantian. Gitar tua, seruling bambu, lalu saksofon memainkan Songbird dengan lengkingan panjang, seperti ratapan pendosa yang tak kunjung beroleh pengampunan. 

“Aku berhenti dari koran itu,” katanya tiba-tiba.

Aku menoleh.

“Kenapa?”

Ia tersenyum, tapi tidak langsung menjawab.

“Karena ada hal-hal yang tidak bisa terus ditulis tanpa mengikis diri sendiri.”

Aku mengerti, meski ia tidak menjelaskan lebih jauh.

“Aku dipecat,” kataku.

Ia menatapku.

“Karena berita?”

Aku menangguk.

“Penimbunan BBM. Melibatkan orang dalam.”

Ia tertawa pendek, bukan karena lucu, tapi karena terlalu akrab.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X