Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 1 Mei 2026 | 13:24 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)

Di dalam diriku, sesuatu akhirnya berubah. Bukan hilang. Bukan selesai. Hanya dilepaskan.

Aku tersenyum kecil. Kurasakan pelupuk mataku basah dan panas.

Ia adalah kunang-kunang, cahaya kecil yang tak bisa dimiliki. Dan aku, masih seekor tonggeret, suara yang terus hidup, bahkan ketika dunia enggan mendengar.

Memang, aku hanyalah kunang-kunang luka,

Takdirku adalah terbang dari senja ke senja,

Mengingat kisah ini sampai ke akhir hayat (2)

Dan puisi? Adalah malam panjang yang mempertemukan kami, hanya untuk mengajarkan hal sederhana: melepaskan.&

 

Yogya-Bumi Senentang, 2019-2026

 

Tentang Penulis:

Willy Wedhanta (Willibrordus W.), lahir di Entuma, 19 Maret 1975. Menulis cerpen, puisi, dan jurnalisme sejak di SMA Seminari St Paulus Nyarumkop-Singkawang hingga studi di STFT Widya Sasana Malang. Karyanya tersebar di berbagai media dan antologi,  terbaru RESONA Track #3: Jejak Rasa yang Tak Selesai (Prince Publishing, 2026). Menetap di Lengkong Bindu, Sintang, Kalimantan Barat.    

 

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X