Seleksi Perangkat Desa Diprotes, Kades Mengaku Dipukul Massa

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 20:33 WIB
Menyoroti insiden dugaan pengeroyokan yang dialami Kades Purwasaba Jawa Tengah, Hoho Alkaf (kiri). (Dok. Instagram.com/@hoho_alkaff)
Menyoroti insiden dugaan pengeroyokan yang dialami Kades Purwasaba Jawa Tengah, Hoho Alkaf (kiri). (Dok. Instagram.com/@hoho_alkaff)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANJARNEGARA -- Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan insiden pengeroyokan terhadap Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho alias Hoho Alkaf, di Kabupaten Banjarnegara.

Peristiwa tersebut terjadi saat ratusan anggota LSM menggelar aksi unjuk rasa di Balai Desa Purwasaba pada Selasa (11/3/2026). Massa saat itu mendesak agar hasil penjaringan perangkat desa dibatalkan.

Baca Juga: Kapolri Beri Atensi Khusus Kasus Air Keras Aktivis KontraS

Dalam video yang beredar, situasi tampak memanas hingga berujung kericuhan. Hoho Alkaf kemudian mengaku menjadi korban pengeroyokan yang menyebabkan atribut kedinasannya rusak serta dirinya mengalami cedera fisik.

Melalui akun Instagram pribadinya, @hoho_alkaff pada Sabtu, 14 Maret 2026, Hoho memaparkan kronologi kejadian yang dialaminya.

Ia menjelaskan serangan terjadi ketika dirinya hendak meninggalkan lokasi setelah audiensi dengan massa berlangsung tegang.

"Waktu saya baru keluar dari pintu aula, sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, dan depan," kata Hoho.

Akibat insiden tersebut, kacamata yang dikenakannya pecah dan pakaian dinas yang ia pakai mengalami kerusakan.

"Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan," lanjutnya.

"Logo atribut saya juga pada rogol. Papan nama jatuh karena ketarik-tarik," ungkap Hoho.

Dalam keterangannya, Hoho menduga aksi anarkis tersebut dipicu kekecewaan salah satu anggota LSM yang tidak lolos dalam seleksi perangkat desa.

Menurutnya, pihak tersebut menuntut agar proses seleksi diulang, meskipun nilai yang diperoleh dinilai tidak memenuhi syarat.

"Mereka nilainya di bawah, tapi maunya diulang. Kita kiblatnya regulasi, tapi mereka tetap tidak mau tahu," ucapnya.

Ia menegaskan bahwa hasil seleksi tidak bisa dibatalkan hanya karena adanya tekanan dari pihak tertentu.

"Tidak mungkin hasil seleksi dibatalkan hanya karena tekanan pihak tertentu," tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Rekomendasi

Terkini

X