Aceh Tamiang Diselimuti Debu, Dampak Lumpur Banjir Kian Mengkhawatirkan

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 29 Januari 2026 | 10:53 WIB
Ancaman debu dari sisa lumpur banjir di Aceh Tamiang. (Dok. Instagram/berita_aceh_tamiang_offical)
Ancaman debu dari sisa lumpur banjir di Aceh Tamiang. (Dok. Instagram/berita_aceh_tamiang_offical)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Ancaman debu kini menjadi persoalan serius bagi warga Aceh Tamiang setelah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Lumpur sisa banjir yang belum sepenuhnya dibersihkan mulai mengering, memicu debu beterbangan saat aktivitas warga berlangsung, terutama ketika kendaraan melintas di jalan raya.

Kondisi ini terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial. Video tersebut memperlihatkan pekatnya debu yang menyelimuti permukiman warga sesaat setelah sebuah helikopter mendarat di kawasan Aceh Tamiang.

“Helikopter turun, jadi gelap debunya sampai kayak begitu,” ujar seorang warga dalam video yang diunggah akun Instagram @berita_aceh_tamiang_offical pada Kamis (29/1/2026). 

Baca Juga: Kapolresta Sleman Dicecar DPR, Salah Jawab soal KUHP Baru

Dalam rekaman itu, suasana yang semula terang mendadak berubah gelap akibat debu yang berterbangan seiring suara baling-baling helikopter yang semakin mendekat. Beberapa anggota Brimob yang berada di lokasi tampak berlarian untuk menghindari debu pekat tersebut.

Belum turunnya hujan selama beberapa hari terakhir turut memperparah kondisi. Lumpur yang sempat basah kini berubah menjadi debu halus yang mudah beterbangan.

“Kondisi saat ini di Tamiang. Hujan jadi Kuala Lumpur, panas jadi padang pasir,” tulis keterangan unggahan tersebut.

Di kolom komentar, warga menyuarakan kekhawatiran mereka. Upaya penyiraman jalan dinilai berisiko karena dapat membuat permukaan jalan menjadi licin dan membahayakan pengendara.

Sementara itu, pemerintah pusat terus mendorong percepatan penanganan dampak banjir di Aceh Tamiang. Dalam rapat koordinasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera pada 26 Januari 2026, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan pentingnya percepatan pembersihan lumpur di wilayah tersebut.

Menurut Tito, Aceh Tamiang yang berada di kawasan dataran rendah menjadi salah satu daerah dengan dampak terparah akibat banjir bandang dan longsor. Selain Aceh Tamiang, daerah lain yang juga menghadapi persoalan serupa adalah Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah pusat telah menurunkan ribuan personel gabungan dari berbagai lembaga dan institusi pendidikan kedinasan. Personel tersebut terdiri dari 1.132 Praja IPDN, 500 mahasiswa Politeknik Statistika STIS, 600 taruna dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, sekitar 2.000 personel TNI, serta 1.000 personel Polri.

Baca Juga: Es Gabus Pak Sudrajat Dipastikan Aman, Bantuan Mengalir Usai Tuduhan yang Dilontarkan oleh Aparat

Selain itu, program Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) turut melibatkan 1.788 personel gabungan dari Akmil, AAL, AAU, Unhan, Akpol, hingga Politeknik Siber dan Sandi Negara.

“Jadi kekuatan di Tamiang itu mungkin mendekati TNI-Polri-nya hampir 10.000 di sana. Karena memang paling banyak kolam yang terdampak lumpur,” kata Tito.

Pembersihan difokuskan pada fasilitas publik seperti kantor pemerintahan, sekolah, pasar, serta permukiman warga yang terdampak paling parah.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X