Sekjen Kemensos Robben Rico Bongkar Konsep Sekolah Rakyat Program Prabowo

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 22 Januari 2026 | 08:59 WIB
JPP Promedia menggelar forum bersama Sekjen Kemensos, Robben Rico untuk mengenal lebih dekat tentang program Sekolah Rakyat. (Dok. Promedia)
JPP Promedia menggelar forum bersama Sekjen Kemensos, Robben Rico untuk mengenal lebih dekat tentang program Sekolah Rakyat. (Dok. Promedia)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Jaringan Pemred Promedia (JPP) menggelar forum diskusi bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico, guna membahas program sekolah rakyat yang menjadi salah satu prioritas Presiden RI Prabowo Subianto.

Forum tersebut berlangsung secara daring pada Selasa malam, 20 Januari 2026, dan diikuti para pemimpin redaksi serta perwakilan media mitra Promedia dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Sudewo Dijerat Dua Kasus KPK, Bupati Pati Mengaku Dikambinghitamkan

Dalam diskusi bertajuk Mengenal Sekolah Rakyat Lebih Dekat, Robben Rico menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia.

"Sekolah rakyat ini salah satu program besar Presiden Prabowo yang menjadi sebuah miniatur pengentasan kemiskinan," ujar Rico.

Ia menjelaskan, sekolah rakyat dirancang untuk memberi kesempatan yang setara bagi anak-anak dari keluarga miskin agar memiliki masa depan yang sama dengan anak-anak dari keluarga mampu.

"Sekolah rakyat ini harapannya menjadi 'penyapu ranjau' untuk anak-anak Indonesia agar mereka bisa setara dengan saudara-saudaranya yang lain, atau dari keluarga yang mampu," jelasnya.

Rico menyebut, Kementerian Sosial telah menyiapkan perencanaan menyeluruh agar program tersebut benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya keluarga dhuafa dan warga miskin.

"Kami telah membuat perencanaan terkait target yang ingin dicapai, terkhusus terkait gagasan Presiden dalam rangka memuliakan keluarga dhuafa dan warga miskin," katanya.

Ia juga mengungkapkan, konsep sekolah rakyat akan mengusung sistem asrama, di mana para siswa tinggal dan menjalani aktivitas pendidikan selama 24 jam di lingkungan sekolah.

"Bentuknya asrama, artinya anak-anak akan masuk di sini 24 jam berada di sekolah rakyat," tuturnya.

Menurut Rico, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter secara berkelanjutan agar kelak mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya.

Baca Juga: OTT KPK di Pati, Sudewo Diduga Jual Jabatan Perangkat Desa hingga Rp2,6 Miliar

"8 jam mereka mendapatkan pendidikan formal seperti sekolah reguler, kemudian sisanya sekolah akan membentuk karakter anak-anak," ungkapnya.

"Anak-anak ini akan kita bentuk menjadi agen perubahan yang nanti bisa membawa sebuah perubahan dan bisa memutus rantai kemiskinan, dimulai dari keluargannya," pungkas Rico.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X