Viral Guru Dipukuli Murid di SMK Jambi, Bermula dari Teguran hingga Tinju

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:26 WIB
Menyoroti insiden aksi saling pukul seorang guru dengan siswanya di SMK Jambi yang viral di medsos. (Dok. Instagram.com/@jambisharing)
Menyoroti insiden aksi saling pukul seorang guru dengan siswanya di SMK Jambi yang viral di medsos. (Dok. Instagram.com/@jambisharing)

PONTIANAKGLOBE.COM, TANJUNG JABUNG -- Nama Agus Saputra, guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya sendiri.

Peristiwa ini menyedot perhatian publik karena terjadi di lingkungan sekolah dan melibatkan relasi guru–murid.

Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami sejumlah luka memar di bagian tubuh dan pipi yang diduga berasal dari pukulan para siswa.

Baca Juga: WNI di Amsterdam Soroti Panduan 72 Jam Saat Listrik Padam

Di tengah ramainya pemberitaan, seorang siswa berinisial MLF yang disebut ikut terlibat dalam insiden tersebut angkat bicara dan membeberkan kronologi versi dirinya.

Melalui unggahan Instagram @pembasmii.kehaluan pada Sabtu, 17 Januari 2026, MLF menyampaikan bahwa ketegangan bermula dari suasana kelas yang ribut menjelang akhir jam pelajaran. Ia mengaku secara spontan berteriak meminta teman-temannya untuk diam.

“Situasi kelas yang bising membuat MLF spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam,” demikian keterangan dalam unggahan tersebut.

Menurut MLF, situasi memanas ketika Agus tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari sumber teriakan.

“Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya ‘siapa yang bilang woi?’ begitu,” tutur MLF.

Ia mengaku menjawab pertanyaan itu dan maju ke depan kelas, namun justru mendapat tamparan dari sang guru.

“Terus saya jawab ‘saya Prince’ kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar,” imbuhnya.

MLF juga menjelaskan bahwa sebutan “Prince” bukan dimaksudkan sebagai bentuk ketidaksopanan. Ia menyebut panggilan tersebut justru merupakan permintaan dari Agus sendiri, karena sang guru disebut kerap marah apabila dipanggil dengan sebutan “Bapak”.

Ketegangan berlanjut hingga Agus dibawa ke kantor sekolah oleh pihak komite. Di momen itulah, MLF mengklaim sikap guru tersebut memancing emosi para siswa.

“Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua,” terang MLF.

Ia menegaskan bahwa pengeroyokan yang terjadi setelahnya merupakan reaksi spontan para siswa yang melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di area kantor sekolah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X