Terisolir Pascabanjir, Warga Bonan Dolok Jalan Kaki 10 Jam Demi Sembako

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Jumat, 19 Desember 2025 | 20:38 WIB
Cerita warga Bonan Dolok, Tapanuli Tengah yang harus berjalan kaki demi mendapatkan bantuan.  (Dok. TikTok/zaits_bf)
Cerita warga Bonan Dolok, Tapanuli Tengah yang harus berjalan kaki demi mendapatkan bantuan. (Dok. TikTok/zaits_bf)

PONTIANAKGLOBE.COM, TAPANULI TENGAH -- Sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah hingga kini masih mengalami keterbatasan akses akibat jalan putus yang disebabkan banjir dan longsor pada akhir November lalu. Salah satu desa yang masih terisolasi adalah Bonan Dolok di Kecamatan Sitahuis.

Kondisi tersebut membuat warga harus menempuh perjalanan ekstrem demi mendapatkan bantuan logistik. Dalam video yang beredar di media sosial, warga Bonan Dolok terlihat berjalan kaki hingga 10 jam untuk mengambil bahan kebutuhan pokok.

Baca Juga: Meski Bercerai, Shandy Aulia dan David Herbowo Tetap Kompak Demi Anak

Perjuangan tersebut terekam dalam unggahan akun TikTok @zaits_bf pada Kamis, 18 Desember 2025. Dalam video itu, warga harus melewati jalanan licin, medan berat, hingga cuaca yang tidak menentu demi sampai ke lokasi pengambilan bantuan.

“Meskipun hujan, kami tetap semangat menjemput bahan pokok di dapur, kami berjalan. Sekali berjalan, kami perlu 5 jam,” ucap seorang warga dalam video tersebut.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan dari Sitahuis menuju Sibolga harus ditempuh dengan berjalan kaki pulang-pergi selama sekitar 10 jam. “Jadi, dari Sitahuis ke Sibolga kami pulang pergi butuh 10 jam,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, warga juga menyampaikan harapan agar pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi jalan yang masih tertutup akibat longsor.

“Buat bapak dan ibu, tolong lihat kami. Kami di sini di Sitahuis sedang berduka terjadinya longsor, bahan makanan di sini tidak ada,” ujarnya.

“Mohon bapak ibu bisa melihat kami, jalan kami tertutup,” tambah warga lainnya. Dalam keterangan video disebutkan bahwa untuk mengambil bantuan, warga bahkan harus melewati kawasan hutan.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah mencatat hingga Rabu, 17 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor mencapai 131 orang. Selain itu, 41 orang masih dalam proses pencarian.

Baca Juga: Durian Dipikul Berkilo-kilo, Perjuangan Petani Sumatera Pascabencana

Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 10.887 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan. Terkait akses jalan, BPBD menyebutkan dua wilayah telah kembali terhubung, yakni Desa Hudopa Nauli dan Kelurahan Sipange.

Namun, delapan desa lainnya masih terisolasi, di antaranya Bonan Dolok, Saur Manggita, Sait Kalangan 2, Sibiobio, Sialogo, Naga Timbul, Simaninggir, serta Kelurahan Simaninggir.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X