Lima Jam Jalan Kaki Demi Beras, Warga Sibolga Taruhkan Nyawa

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 18 Desember 2025 | 22:12 WIB
Tangkapan layar seorang wanita yang rela berjalan menyusuri hutan dan gunung selama lima jam demi menjemput bantuan logistik.  (Dok. TikTok/Apa Aja)
Tangkapan layar seorang wanita yang rela berjalan menyusuri hutan dan gunung selama lima jam demi menjemput bantuan logistik. (Dok. TikTok/Apa Aja)

PONTIANAKGLOBE.COM, SIBOLGA -- Kondisi medan yang rusak parah dan akses jalan terputus setelah bencana memaksa warga Sibolga, Tapanuli Tengah, melakukan upaya ekstrem demi bertahan hidup. Untuk mendapatkan bantuan logistik, mereka harus berjalan kaki melewati jalur pegunungan dengan risiko keselamatan yang tinggi.

Cerita pilu namun sarat keteguhan ini terungkap dari unggahan akun TikTok @Apa Aja pada Rabu, 17 Desember 2025. Dalam video tersebut, seorang remaja perempuan mengisahkan beratnya perjuangan menuju posko pengungsian demi memperoleh bahan pangan.

Baca Juga: Ngaku Anggota Polda, Pelaku Peras Korban di Dalam Mobil

Ia menyebutkan bahwa satu kali perjalanan mengambil bantuan bisa memakan waktu berjam-jam karena medan yang terjal dan berbahaya.

“Lima jam pulang pergi kami,” ucapnya dalam video tersebut.

Dengan kondisi fisik yang terbatas, mereka tidak sanggup membawa seluruh logistik sekaligus. Akibatnya, sebagian bantuan terpaksa ditinggalkan di tengah perjalanan dan diambil kembali keesokan harinya.

“Yang semalam kami tidak dapat, cuma kami jemput beras kami yang kami tinggalkan kemarin. Karena kami enggak sanggup bawanya,” tuturnya.

Cuaca buruk turut memperparah keadaan. Hujan deras mengguyur perjalanan mereka, namun kebutuhan pangan yang mendesak membuat mereka tetap melanjutkan langkah melewati hutan dan gunung. “Semalam kami hujan-hujan. Pokoknya di jalan (gunung) itu kami lari-lari saja,” katanya.

Ancaman longsor dan bahaya alam lainnya membuat mereka harus bergerak cepat. Keselamatan menjadi pertaruhan di setiap langkah. “Mau bagaimana lagi, nyawa lebih penting,” lanjutnya dengan nada pasrah namun penuh ketegaran.

Baca Juga: Diam-diam Bantu Korban Banjir Sumatera, Shin Tae-yong Buktikan Cinta Tak Pernah Putus

Rasa perih akibat duri dan medan tajam seolah tak lagi terasa. Fokus mereka hanya satu, memastikan keluarga di pengungsian bisa makan.

“Kadang kena duri kaki kami tidak terasa,” pungkasnya.

Kisah warga Sibolga ini menggambarkan betapa sulitnya distribusi bantuan di wilayah terisolasi, di mana perjuangan untuk mendapatkan makanan harus dibayar dengan risiko nyawa.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X