Menurutnya, kondisi itu ikut memicu erosi dan aliran material kayu dalam jumlah besar. KLH berencana memperluas pengawasan ke wilayah Batang Toru, Garoga, dan daerah aliran sungai lainnya di Sumatera Utara.
Sementara itu, dampak bencana di Tapanuli Selatan masih dirasakan warga. Banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 menyebabkan kerusakan parah pada berbagai infrastruktur dan membuat banyak orang mengungsi.
Material berupa kayu, lumpur, dan sampah yang terbawa arus merusak jembatan serta memutus akses antar desa.
Sejumlah warga telah dipindahkan ke posko pengungsian yang disiapkan pemerintah di area yang aman. Hingga 6 Desember 2025, jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Tapsel dengan Kabupaten Tapanuli Tengah masih belum bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi ini membuat pasokan logistik dan aktivitas ekonomi warga terhambat.***
Artikel Terkait
Mitigasi Gagal, Korban Bertambah: BNPB Ungkap Ketidaksiapan Pemda di Tiga Provinsi
WALHI Bongkar 639 Izin Perusahaan: Dari Tambang, Sawit, hingga Energi Bermasalah
Reklamasi Mangkrak, Negara Dianggap Tunduk pada Perusahaan Tambang
Banjir Meluas, Bahlil akan Telisik Peran Izin Tambang Lama yang Diterbitkan Pemda
BNPB Ungkap 867 Korban Jiwa: Sumatera Dilanda Bencana Terburuk Tahun Ini
Baru Ngaku Tak Mampu Tangani Bencana, Bupati Aceh Selatan Malah Umrah