Aktivitas Gunung Semeru Tak Mereda, Zona Merah Semakin Diperpanjang

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Sabtu, 22 November 2025 | 13:48 WIB
Menyoroti situasi berbahaya pada kawasan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur usai alami erupsi pada Rabu, 19 November 2025.  (Dok. ESDM)
Menyoroti situasi berbahaya pada kawasan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur usai alami erupsi pada Rabu, 19 November 2025. (Dok. ESDM)

PONTIANAKGLOBE.COM, LUMAJANG -- Aktivitas erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur kembali meningkat dan membuat zona bahaya diperketat pada Sabtu, (22/11/2025). Badan Geologi Kementerian ESDM menetapkan jalur Besuk Kobokan hingga radius 20 kilometer dari puncak sebagai area terlarang karena ancaman awan panas dan aliran lahar masih sangat tinggi.

Pada Sabtu dini hari, Semeru mengeluarkan asap putih setinggi sekitar 1.000 meter dari kawah. Rekaman CCTV di Desa Oro-oro Ombo memperlihatkan jelas guguran lava pijar dan suara letusan berulang yang terdengar hingga lereng, disertai cahaya merah yang menyorot langit malam sebagai tanda erupsi berkelanjutan.

Baca Juga: Kapadze Datang Diam-Diam ke Jakarta, Isu Pelatih Timnas Semakin Panas

Ketua Tim Tanggap Darurat Erupsi Semeru Badan Geologi, Yasa Suparman mengingatkan warga tetap menjauh dari zona rawan.

“Semeru masih dalam aktivitas erupsi yang berbahaya. Kemarin masih terjadi awan panas, gempa letusan, dan banjir lahar,” kata Yasa dalam keterangan resminya, pada Sabtu, (22/11/2025). 

Data Badan Geologi pada Jumat, 21 November 2025 menunjukkan visual puncak gunung masih terlihat meski sesekali tertutup kabut. Aktivitas kegempaan meningkat signifikan dengan 157 gempa letusan berdurasi puluhan hingga ratusan detik, ditambah gempa guguran, hembusan, vulkanik dalam, tektonik jauh, dan getaran banjir.

Larangan aktivitas diberlakukan ketat di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 20 kilometer dari puncak.

Masyarakat juga harus menjauhi sempadan sungai minimal 500 meter karena aliran lahar bisa turun tiba-tiba. Selain itu, radius 8 kilometer dari kawah tetap steril untuk menghindari lontaran batu pijar.

Secara terpisah, Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid menjelaskan bahwa aktivitas erupsi Semeru bukan terjadi sekali, melainkan beruntun.

“Erupsi berupa awan panas yang terjadi merupakan rangkaian beruntun, bukan kejadian tunggal,” kata Wafid kepada awak media di Bandung, pada Rabu, (19/11/2025). 

Letusan besar pada 19 November memicu kolom abu setinggi 2.000 meter dan awan panas sejauh 7 kilometer ke arah utara dan barat laut, dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi hampir 17 menit, yang menjadi dasar penetapan status Awas.

Wafid menambahkan bahwa suplai material dari dalam tubuh gunung masih berlangsung.

“Nilai variasi kecepatan relatif menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober, yang mengindikasikan adanya peningkatan tekanan di dekat permukaan tubuh gunung api,” jelasnya.

Baca Juga: Pesawat Cessna Jatuh di Sawah Karawang, Lima Awak Selamat Tanpa Luka

Dinas Peternakan DKPP Lumajang mencatat 143 hewan ternak terdampak akibat erupsi pada 19 November 2025, terdiri dari 139 kambing dan domba serta 4 sapi. Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status Tanggap Darurat hingga 26 November untuk penanganan lanjutan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X