Kiai Anwar Manshur, Ulama yang Menolak Modernisasi demi Jaga Keaslian Pesantren

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Jumat, 17 Oktober 2025 | 21:55 WIB
Mengintip biografi KH. Anwar Manshur yang menjadi ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur.  (Dok..lp2m.uit-lirboyo.ac.id)
Mengintip biografi KH. Anwar Manshur yang menjadi ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur. (Dok..lp2m.uit-lirboyo.ac.id)

PONTIANAKGLOBEL.COM, KEDIRI -- Di tengah ramainya sorotan publik di media sosial mengenai kehidupan Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, satu nama kembali mencuat dan menjadi perhatian luas yaitu KH. Anwar Manshur.

Sosok pengasuh utama pesantren legendaris itu dikenal bukan hanya karena posisinya, tetapi juga karena keteladanannya sebagai penjaga ilmu dan tradisi pesantren salaf yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: IIMS Masuk Kalimantan! IIMS Garage Balikpapan 2025 Panaskan Jalan ke IIMS 2026

Dalam beberapa waktu terakhir, sebuah tayangan di media sosial menyinggung kehidupan di lingkungan Ponpes Lirboyo. Namun di balik kontroversi itu, KH. Anwar Manshur tetap menjadi figur yang dihormati, dihargai, dan dicintai oleh ribuan santri serta tokoh bangsa.

Dikenal dengan tutur lembut dan sikap rendah hati, Kiai Anwar menjadi simbol keteduhan sekaligus keteguhan dalam menjaga warisan keilmuan Islam klasik.

Dari majelisnya di Lirboyo, ribuan santri menimba ilmu dan akhlak, sementara para tokoh nasional kerap datang untuk bersilaturahmi dan memohon doa.

Beberapa tokoh yang pernah sowan ke Lirboyo di antaranya KH. Ma’ruf Amin, KH. Yahya Cholil Staquf, hingga Abdul Muhaimin Iskandar. Mereka datang bukan semata karena status Kiai Anwar, tetapi karena wibawa dan ketulusan ilmunya.

Lahir pada 1 Maret 1938 di lingkungan pesantren, KH. Anwar Manshur merupakan cucu dari pendiri Ponpes Lirboyo, KH. Abdul Karim. Sejak muda, ia menempuh pendidikan di sejumlah pesantren ternama, seperti Pacul Gowang dan Tebuireng Jombang, sebelum kembali ke Lirboyo sebagai pengajar tetap.

Hingga kini, di usianya yang sepuh, ia masih mengajar kitab Dalailul Khairat setiap pagi di Lirboyo.

Keteguhannya menjaga sistem pendidikan salaf menjadi ciri khas kepemimpinannya. Saat banyak pesantren menyesuaikan diri dengan kurikulum modern, KH. Anwar tetap mempertahankan metode klasik tanpa menolak kemajuan yang bermanfaat.

”Prinsipnya sederhana tetapi kuat, melestarikan yang lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik,” demikian tertulis dalam catatan LP2M UIT Lirboyo.

Baca Juga: 426 Siswa Dilaporkan Sakit Perut, BGN Evaluasi Keamanan Pangan MBG di Yogyakarta

Pernah suatu ketika, Kementerian Agama menawarkan penyesuaian kurikulum kepada Lirboyo. Namun, dengan tegas ia menolak karena khawatir pesantren kehilangan ruh salaf yang menjadi jantung pendidikan Islam tradisional.

“Kami tidak ingin kehilangan ruh salaf yang telah diwariskan oleh para kiai,” ujar Kiai Anwar dalam satu kesempatan di Kediri pada 2023 lalu.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kiai Anwar dikenal hidup sederhana. Ia tinggal di rumah yang bersahaja, membuka pintunya bagi siapa pun yang ingin bertamu, dan tak pernah berhenti memberi nasihat kepada santri serta masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X