Baret Biru Indonesia, dari Tanah Air Menuju Gaza Membawa Amanah Kemanusiaan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 5 Oktober 2025 | 18:13 WIB
Di tengah konflik berkepanjangan di Gaza, sejumlah prajurit Indonesia mengatakan siap diberangkatkan sebagai bagian dari misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) apabila ditugaskan.  (Dok. Tim Media Prabowo)
Di tengah konflik berkepanjangan di Gaza, sejumlah prajurit Indonesia mengatakan siap diberangkatkan sebagai bagian dari misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) apabila ditugaskan. (Dok. Tim Media Prabowo)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Di tengah konflik berkepanjangan di Gaza, sejumlah prajurit TNI menyatakan kesiapan mereka untuk bergabung dalam misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mereka menegaskan, kehadiran pasukan Indonesia bukan untuk berperang, melainkan membawa misi kemanusiaan.

Baca Juga: Makna Gua Maria bagi Umat Katolik, dari Sejarah Lourdes hingga Tradisi Devosi di Indonesia

Letda Laut Kesehatan Lia Aliyah (25) mengaku akan sangat terhormat bila mendapat kesempatan menjadi bagian dari pasukan perdamaian tersebut.

“Pikiran pertama saya, tentu sangat bangga dan merasa terhormat. Tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama seperti ini,” ujar Lia saat ditemui di kawasan Monas, dalam peringatan HUT TNI ke-80, Minggu (5/10).

“Ini amanah besar bagi saya. Karena itu, saya harus mempersiapkan diri, baik mental maupun fisik. Kami datang untuk melindungi masyarakat sipil, menciptakan keamanan, dan membantu mewujudkan masa damai bagi masyarakat,” lanjutnya.

Menurut Lia, penugasan ke Gaza bukan sekadar misi luar negeri, tetapi juga ujian moral dan kemanusiaan.

Ia menyebut membangun kepercayaan masyarakat lokal sebagai tantangan terbesar bagi pasukan perdamaian Indonesia.

Baca Juga: Aksi Liar Mata Elang atau Debt Collector di Jalanan, Cekcok dengan Polisi, Warga Sampai Lempari Mobil

“Tantangan paling besar adalah membangun rasa percaya dari masyarakat setempat. Tanpa itu, misi perdamaian tidak akan berjalan efektif,” katanya.

Senada, Sertu Kowad Cut Fadila Arsya (27), yang bertugas di Bagian Operasi Perencana Satgas, menegaskan bahwa jika ditugaskan ke Gaza, motivasi utamanya adalah kemanusiaan dan profesionalisme.

“Nilai yang kami pegang adalah tanggung jawab kemanusiaan dan profesionalisme sebagai prajurit yang ditugaskan menjaga perdamaian,” ujarnya.

“Prajurit tidak hanya mengabdi pada negara, tetapi juga kepada sesama manusia — terutama di wilayah konflik seperti Gaza, yang membutuhkan keamanan dan kepedulian,” tambah Cut Fadila.

Sementara itu, Kopral Dua Hari Puro (36) menegaskan kesiapan dirinya dan rekan-rekan bila sewaktu-waktu mendapat mandat untuk berangkat. Ia menekankan bahwa misi ke Gaza bukan operasi militer, melainkan misi kemanusiaan.

“Sejak dini kami sudah menanamkan pemahaman bahwa tugas ini bukan operasi militer, tapi tugas kemanusiaan,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X