Pertama Kali! Vatikan dan Indonesia Rayakan 75 Tahun Hubungan Diplomatik dengan Misa di Basilika Santo Petrus

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 2 Oktober 2025 | 13:40 WIB
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Takhta Suci (Vatikan) saat ini adalah Michael Trias Kuncahyono di Vatikan. (KBRI Takhta Suci)
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Takhta Suci (Vatikan) saat ini adalah Michael Trias Kuncahyono di Vatikan. (KBRI Takhta Suci)

“Pengakuan itu tidak hanya menjadi babak penting dalam sejarah, tetapi juga simbol saling menghargai antar dua negara, yang terus dibangun atas dialog, penghormatan, dan nilai-nilai kemanusiaan bersama,” ujar Dubes Trias.

Baca Juga: Rokok di Antara Ekonomi dan Kesehatan, Menkeu Purbaya: Saya Pilih yang Paling Bermanfaat untuk Masyarakat

Ia menegaskan, diplomasi kepausan yang dijalankan Takhta Suci, berbasis pada prinsip moral dan kemanusiaan, sangat penting di tengah praktik diplomasi modern yang kerap hanya berorientasi pada kepentingan nasional.

Indonesia dan Vatikan memiliki kesamaan sikap dalam banyak isu global, antara lain perdamaian, HAM, hak-hak perempuan dan anak, ketahanan pangan dan air, serta pelestarian lingkungan hidup.

Keduanya tegas mendukung two-state solution untuk konflik Israel–Palestina, menekankan “pengakuan yang adil terhadap hak semua orang.” Pada isu perang Rusia–Ukraina, Indonesia dan Vatikan sama-sama mendorong solusi damai. Keduanya juga aktif mempromosikan dialog antarumat beragama demi perdamaian dunia.

Jejak Sejarah

Hubungan diplomatik Indonesia–Vatikan dimulai pada 1947, ketika Paus Pius XII menunjuk Uskup Agung Mgr. George de Jonghe d’Ardoye sebagai Delegatus Apostolik untuk Indonesia, setelah didorong oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Albertus Sugiyapranata, SJ.

Baca Juga: SPBU Swasta Batal Beli BBM dari Pertamina, Kandungan Etanol Jadi Alasan Utama

Hubungan resmi disahkan pada 1950, ditandai dengan pertukaran surat kepercayaan antara Presiden Sukarno dan Paus Pius XII.

Sejak itu, hubungan semakin erat, ditandai dengan kunjungan apostolik tiga Paus ke Indonesia — Paus Paulus VI (1970), Paus Yohanes Paulus II (1989), dan Paus Fransiskus (2024) — serta kunjungan empat Presiden RI ke Vatikan — Sukarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Sukarnoputri.

Kini, hubungan tersebut juga tercermin dari semakin banyaknya biarawan dan biarawati Indonesia yang berkarya di Italia. Saat ini, tercatat lebih dari 1.800 biarawan dan biarawati Indonesia melayani di berbagai bidang di negeri itu.

Hubungan diplomatik Indonesia–Takhta Suci tidak hanya menjadi ikatan sejarah, tetapi juga kontribusi nyata bagi perdamaian, kerukunan antarumat beragama, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: KBRI Takhta Suci

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X