PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Pernahkah Anda memperhatikan bahwa hampir setiap perayaan Tahun Baru Imlek selalu disertai hujan?
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, tetapi memiliki makna mendalam dalam budaya Tionghoa.
Baca Juga: Viral! Warga Menjarah Durian saat Mobil Terguling di Lampung, Sopir Alami Kerugian
Bagi sebagian orang, hujan saat Imlek dianggap sebagai pertanda keberuntungan dan berkah, sementara dari sisi ilmiah, fenomena ini erat kaitannya dengan puncak musim hujan di Indonesia.
Lalu, benarkah hujan saat Imlek membawa keberuntungan? Atau hanya sekadar pola cuaca biasa? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Perayaan Tahun Baru Imlek kerap disertai turunnya hujan, sebuah fenomena yang telah menjadi ciri khas tersendiri.
Dalam budaya Tionghoa, hujan saat Imlek tidak hanya dianggap sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam.
Secara ilmiah, hujan ini berkaitan dengan musim hujan di Indonesia yang biasanya mencapai puncaknya pada periode tersebut.
Baca Juga: Polusi Udara Tinggi, Thailand Gratiskan Skytrain dan Bus Selama Sepekan
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah di Indonesia diperkirakan akan mengalami hujan ringan hingga sedang saat perayaan berlangsung.
BMKG menjelaskan bahwa hujan saat Imlek erat kaitannya dengan pola cuaca di Indonesia. Perayaan ini selalu jatuh antara akhir Januari hingga awal Februari, yang bertepatan dengan puncak musim hujan.
Faktor utama yang menyebabkan hujan pada periode ini adalah angin Monsun Asia, yang membawa udara lembap dari Samudera Hindia dan meningkatkan curah hujan di Indonesia. Selain itu, pola angin barat yang aktif pada musim ini turut memperbesar potensi hujan.
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa dan umat Konghucu, turunnya hujan saat Tahun Baru Imlek dianggap sebagai simbol keberuntungan dan keberkahan.
Mengutip The Daily, mitologi Tiongkok menyebut bahwa naga adalah makhluk Ilahi yang berhubungan erat dengan air dan hujan. Naga dipercaya memiliki kekuatan untuk mengendalikan hujan dan sering dipanggil dalam ritual, terutama saat musim kemarau.