Sementara sistem susunan saraf mengalami perubahan sehingga Lansia mengalami penurunan kemampuan dalam mengingat, memahami, motivasi dan melakukan aktifitas sehari-hari; Ada gangguan fungsi indera yang dapat berakibat penurunan tajam penglihatan dan pendengaran; Gangguan keseimbangan sehingga mudah jatuh; Penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga mudah terkena infeksi; Dan gangguan sistem pencernaan sehingga mudah terkena diare maupun susah buang air besar atau sembelit.
Masalah kesehatan fisik pada Lansia yang perlu diwaspadai adalah munculnya gejala penyakit darah tinggi atau hipertensi, penyakit kencing manis (diabetes mellitus), anemia, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease) atau lebih sering disebut dengan PPOK adalah salah satu penyakit yang mengganggu sistem pernapasan karena organ paru-paru mengalami peradangan dalam jangka waktu lama, penyakit jantung koroner, pengeroposan tulang atau Osteoporosis, penyakit sendi atau Artritis, menopause, dan andropause.
Sedangkan perubahan mental pada Lansia diantaranya saat menginjak usia lansia, berbagai kondisi yang dialami seperti: menghadapi pensiun, rentan kena penyakit, dan kehilangan teman-teman seusia dan lain-lain dapat mempengaruhi kesehatan mentalny; Lansia merasa kesepian biasanya ketika kehilangan keluarga dekat (terutama suami/istri) dan sahabat seusia; Lansia biasanya akan mengalami gangguan cemas, panik, stres, trauma. Jika tidak ditangani akan berakibat lebih buruk, seperti depresi.
Masalah kesehatan mental yang perlu diwaspadai diantaranya pikun. Pikun adalan penurunan kemampuan mental perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, pikiran, penilaian serta penurunan konsentrasi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Tanda dan gejala pikun yaitu lupa akan kejadian yang baru dialami; Salah mengenal waktu, tempat, angka dan benda; Kesulitan dalam menemukan kata yang tepat; Sering mengulang kata atau pertanyaan; Emosi labil; Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
Cara pencegahan pikun melakukan kegiatan yang merangsang fungsi otak; Mengembangkan hobi dan kegiatan yang bermanfaat; Beraktivitas fisik teratur secara mandiri sesuai dengan kemampuan; Tetap melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan; dan mengkonsumsi makanan bergizi dan seimbang.
Kegiatan rutin Posyandu Lansia ini, dijelaskan Robiaty S Pd selaku Pendamping DPP Paroki Keluarga Kudus, Sr Yulita ALMA Koordinator Seksi Keluarga dan Herkulanus Sutharia Koordinator Seksi Liturgi Kreatif, melibatkan tim Kesehatan dr Fransiska sebagai Koordinator Kesehatan, dr Raysa, dr Delphine Halim, dr Novi; Tim medis Sri Wahyuni, Yosi, Sulas, Doni, Merry, Kiki R Toun dan Florensia Sumarsih. Sedangkan tim kesehatan dari UPT Puskesmas Gang Sehat diantaranya, Lina Anggraini, Sri Yuliastuti Utami dan Amanda Lia.
“Meskipun kegiatan ini ada di wilayah Dewan Paroki Keluarga Kudus, namun kami mengundang para Lansia lintas suku, agama, ras dan antar golongan untuk dapat hadir pada acara bulanan Posyandu Lansia ini, karena penekanan dari layanan ini adalah Lansia sehat,”ujar Sr Yulita ALMA.
Adapun pemeriksaan kesehatan yang rutin dilakukan dalam kegiatan bulanan Posyandu Lansia pada Dewan Paroki Keluarga Kudus tersebut diantaranya pemeriksaan darah tinggi atau yang dikenal dengan hipertensi yang sering disebut juga silent killer terjadi pada Lansia. Tes darah untuk Lipid t mengukur kadar kolesterol,asam urat,dan gula darah. Penting dilakukan untuk mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. ( Vincent Julipin)