Patih Jaga Pati Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua: Reforma Agraria Harus Sejahterakan dan Ciptakan Keadilan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 23 Mei 2023 | 10:30 WIB
Seminar Pekan Gawai Dayak 2023, dengan narasumber Alue Dohong, Raja Juli Antoni, Patih Jaga Pati dengan Moderator Vincent Julipin. (Pontianak Globe/Vincent Julipin)
Seminar Pekan Gawai Dayak 2023, dengan narasumber Alue Dohong, Raja Juli Antoni, Patih Jaga Pati dengan Moderator Vincent Julipin. (Pontianak Globe/Vincent Julipin)

Bagi masyarakat adat Dayak, keinginannya sederhana untuk dapat hidup berdampingan secara damai, rukun dan berkesinambungan yaitu mari kita jaga bersama tonah colap torutn pusaka (hutan adat) yang masih tersisa; Mari kita bersama melakukan revitalisasi dan menaman kembali tembawang buah janah; Mari kita jaga bersama dan memelihara tradisi budaya Dayak; Mari kita pelihara dan jaga bersama kelestarian ritual adat mendirikan keramat padagi; Mari kita pelihara dan jaga bersama ritual adat nyapat tahun seperti Naik Dango yang merupakan ungkapan kegembiraan seusai panen padi; Mari kita pelihara dan jaga bersama ritual adat senganyong yang merupakan ungkapan syukur dan kegembiraan datangnya musim buah-buahan atau menjangkap buah.

Sebagai manusia Dayak dan kepada masyarakat pendatang, kita diajak untuk mengakui para pemangku dan pewaris sah tanah Borneo. 

Tanah adat dikuasai dan dipertahankan leluhur sejak beribu tahun lamanya. Kita wajib menjaga, memelihara, serta melestarikannya. 

“Sebagaimana penghormatan kepada nenek moyang leluhur Dayak, kita pun wajib mewariskan  tanah adat dan seisinya ini kepada generasi berikutnya, karena bumi Kalimantan adalah titipan yang harus kita pertanggungjawabkan kelestariannya kepada penghuni bumi ini selanjutnya,” ujar Patih Wilyo.

Oleh karena itu, jika kita berkomitmen Dayak harus menjadi manusia yang menyatu dengan alam dan lingkungannya. Alam dan lingkungan musnah, maka musnahlah orang Dayak dan peradabannya. Maka, janganlah menjual tanah. Pertahankan hutan yang menjadi sumber mata air. Tidak ada hidup dan kehidupan jika tidak ada air. (Vincent Julipin)

* Penulis adalah mantan wartawan, kini aktif sebagai penulis lepas, aktivis pemberdayaan masyarakat dan UMKM, serta pekerja sosial

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X