Opini: NUKLIR, NO CLEAR!!!

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 13 September 2023 | 13:01 WIB
Hendrikus Adam, Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat. (Dok. Pontianak Globe)
Hendrikus Adam, Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat. (Dok. Pontianak Globe)

Oleh: Hendrikus Adam

Kebutuhan energi listrik dewasa ini disadari penting dan diperlukan. Selain menjadi ‘penanda’ kian bergulirnya perkembangan peradaban manusia, ia juga menjadi pendukung keberlangsungan kehidupan.

Baca Juga: Apple Pindah ke Kantor Pusat Dengan Penggunaan Energi Terbarukan 100 Persen

Namun demikian, pemenuhan kebutuhan energi tersebut memerlukan keberanian dalam memastikan penggunaan jenis sumber energi ramah yang selaras aspek keselamatan jangka panjang dan keberlanjutan bagi kehidupan manusia maupun lingkungan hidup.

Baca Juga: Kabar Gembira, Sektor Energi Terbarukan Menyediakan Ribuan Lapangan Pekerjaan

Karena itu, memilih mengoptimalkan sumber energi listrik yang bersih untuk masa depan harusnya dapat menjadi terobosan pilihan sadar.

Baca Juga: Menteri Arifin Tasrif: Realisasi Energi Terbarukan Sumbang Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Sepanjang 2022

Penggunaan energi fosil dominan saat ini diyakini banyak pihak telah menjadi bagian penting penyebab meningkatnya emisi penyebab pemanasan global dan pada gilirannya akan habis dengan daya rusak yang ekstrim.

Baca Juga: Presiden Jokowi Dorong Percepatan Pengembangan Ekosistem Baterai Listrik di Indonesia

Karena itu, pengembangan energi (baru) terbarukan yang bersumber dari alam seperti panas bumi (geothermal), biomasa, air (mikrohydro), tenaga surya, angin, gelombang dan lainnya merupakan sejumlah jenis sumber energi masa depan yang perlu dan mendesak dikembangkan termasuk untuk diprioritaskan sebagai sumber energi nasional dari saat ini.

Selama ini harus diakui, energi terbarukan masih belum menjadi fokus serius untuk dikembangkan pemerintah, termasuk di Kalimantan Barat.

Padahal, penggunaan energi ini akan lebih baik, ramah dan aman karena memiliki potensi resiko yang kecil bila dibandingkan penggunaan energi fosil maupun penggunaan sumber energi berbahaya melalui pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), terlebih bila kemudian terjadi gagal tekhnologi dan kecelakaan vatal yang kemudian dialami.

Sesat Pikir Nuklir
Saat memberi kuliah umum kepada mahasiswa di Universitas Hankuk Seoul, Korea Selatan Selasa (10/9/2018), Presiden Jokowi menegaskan bahwa ancaman nuklir merupakan salah satu dari beberapa tantangan yang sedang dihadapi dunia saat ini (www.republika.co.id).

Pernyataan ini menyiratkan pesan bahwa energi nuklir disadari berbahaya dan menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Baca Juga: Groundbreaking PLTA Mentarang, Presiden Dukung Transformasi Indonesia Menuju Ekonomi Hijau

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X