PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Google resmi meluncurkan Google Cloud’s Universal Ledger (GCUL) pada Rabu, 27 Agustus 2025, sebuah blockchain Layer-1 yang digadang-gadang menjadi pondasi baru bagi pembayaran internasional dan pasar modal.
Inisiatif ini hadir di tengah melonjaknya penggunaan stablecoin, yang tahun lalu mencatat transaksi hingga US$35 triliun—jauh melampaui PayPal (US$1,6 triliun) maupun Visa (US$13 triliun).
Baca Juga: Sungai dan Hutan Terancam Tambang Ilegal, Polres Singkawang Ajak Warga Bergerak
Fenomena tersebut menegaskan stablecoin bukan lagi sekadar alternatif, melainkan bagian vital dalam ekosistem keuangan global.
Namun, Google menilai infrastruktur tradisional masih sarat masalah: sistem yang terfragmentasi, biaya mahal, dan penyelesaian transaksi lintas negara yang lamban.
Data Bank for International Settlements mencatat hubungan antarbank lintas negara turun 25% dalam satu dekade, membuat transfer internasional makin rumit.
GCUL Sebagai Infrastruktur Modern dari Google Cloud
GCUL dirancang sebagai jaringan blockchain private dan permissioned dengan fleksibilitas untuk berkembang lebih terbuka.
Platform ini menawarkan satu API sederhana, sehingga institusi tidak perlu membangun infrastruktur baru.
Beberapa keunggulannya:
-
Biaya stabil & transparan untuk memudahkan pengelolaan layanan.
-
Fleksibel, mampu mengakomodasi berbagai jenis aset dan transaksi lintas batas.
-
Keamanan terjamin, melalui kepatuhan regulasi, verifikasi KYC, dan perlindungan data.
Dengan kemampuan tersebut, GCUL memungkinkan transaksi global yang cepat, murah, dan tersedia 24/7, sekaligus mengurangi risiko kesalahan maupun biaya operasional.
Selain pembayaran, GCUL juga menyasar pasar modal.