JP Morgan memperkirakan The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin tahun ini, sementara Bank Indonesia berpotensi menurunkan BI Rate ke 4,25 persen.
Baca Juga: BBM Non-Subsidi Langka di SPBU Swasta, Ini Penjelasan Wamen ESDM
“Hal yang menarik adalah stabilitas dolar AS yang membuat rupiah juga terjaga,” ucap Henry.
Di sisi lain, JP Morgan menyoroti rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Menurut Henry, keseimbangan antara target pertumbuhan dan defisit fiskal dalam APBN tersebut memberi sinyal positif bagi perekonomian.
Baca Juga: Seskab Teddy Ungkap Presiden Prabowo di China Kurang dari 8 Jam, Langsung Pulang ke Indonesia
“Budget ini cukup bagus, kuncinya ada di eksekusi. Kami rasa hal ini akan berdampak positif,” tegasnya.
Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, JP Morgan menilai sejumlah sektor patut diperhatikan investor.
Sektor konsumer diproyeksikan menguat seiring peningkatan belanja pemerintah.
Baca Juga: BBM Non-Subsidi Langka di SPBU Swasta, Ini Penjelasan Wamen ESDM
Selain itu, sektor pertambangan—terutama nikel—dipandang memiliki prospek cerah.
Sektor sensitif suku bunga, seperti otomotif dan properti, juga dinilai berpotensi menjadi pilihan menarik bagi investor ke depan. ***
Artikel Terkait
IHSG Mei 2023 Kurang Memuaskan, Indeks Komposit Melemah 4,08 Persen. Apa Sentimen IHSG Turun Mei 2023 ?
Nasib Saham Raffi Ahmad di STY Foundation Setelah Shin Tae Yong Dipecat: Apakah Rp267 Miliar Akan Melayang?
Anak Riza Chalid ‘Papa Minta Saham’ Jadi Tersangka Korupsi Pertamina Patra Niaga, Begini Perannya
Saham Boeing Langsung Anjlok Imbas Jatuhnya Pesawat Air India di Ahmedabad
Mengulas Kontroversi BLBI BCA, Penjualan Saham, Kerugian Negara, dan Peran Investor Asing
BCA Klarifikasi Isu Akuisisi 51 Persen Saham di Era Megawati, Fakta vs Isu