Pasar Saham RI Diprediksi Bangkit Semester II 2025, Ini Sektor Unggulan Menurut JP Morgan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 5 September 2025 | 11:56 WIB
Ilustrasi indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan cerah pada Semester II di tahun 2025. (Unsplash @Annenygard)
Ilustrasi indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan cerah pada Semester II di tahun 2025. (Unsplash @Annenygard)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Prospek pasar saham Indonesia diperkirakan semakin cerah pada paruh kedua 2025 hingga 2026.

Optimisme ini datang dari JP Morgan Indonesia yang menilai ada sejumlah faktor pendukung, mulai dari belanja pemerintah, stabilitas rupiah, hingga tren penurunan suku bunga global.

Baca Juga: Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Gelar Forum Strategis, Bahas Masa Depan Kalbar Hingga 2035

Head of Indonesia Research and Strategy JP Morgan, Henry Wibowo, mengatakan gejolak eksternal masih membayangi sepanjang semester I 2025, seperti ketegangan perdagangan dan ketidakpastian global.

Namun, ia menilai kondisi pada semester II justru lebih menjanjikan.

“Katalis positif ekonomi Indonesia adalah belanja pemerintah yang kami ekspektasikan meningkat. Ketika belanja naik, konsumsi domestik juga terdorong sehingga pertumbuhan ekonomi akan ikut menguat,” ujar Henry dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis (4/9/2025).

Baca Juga: Pasca Demo Akhir Agustus, DPR Gelar Rapat Evaluasi Bahas Aspirasi Rakyat

Henry menambahkan, valuasi pasar modal Indonesia saat ini masih tergolong murah dibandingkan negara lain di kawasan.

Rasio price to earnings (PER) indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 12 kali, salah satu yang terendah di Asia Pasifik.

Meski laba korporasi tahun ini diproyeksikan terkontraksi sekitar 5 persen, JP Morgan memperkirakan situasi berbalik pada 2026.

“Tahun depan kami melihat rebound ke kisaran 5–10 persen,” jelas Henry.

Baca Juga: Pemula Wajib Tahu, Ini Rekomendasi Serum Eksfoliasi Harga Mulai Rp30 Ribuan

Ia menegaskan fundamental pertumbuhan laba tetap menjadi faktor kunci.

“Kalau perusahaan bisa tumbuh 50 persen dalam tiga tahun, investor rela membayar lebih mahal. Tapi tanpa pertumbuhan, momentumnya hanya sesaat,” tambahnya.

Selain itu, arah kebijakan suku bunga juga dinilai sebagai katalis penting.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X