PONTIANAKGLOBE. COM, VIETNAM -- Pada tanggal 7 September, Topan Super Yagi, badai terkuat dalam 30 tahun terakhir, berdampak parah pada sedikitnya 26 provinsi di Vietnam.
Wilayah Utara menjadi yang paling parah terkena dampaknya.
Baca Juga: Sosialisasi Pemilu dan MAPER GMKI Sukses di Landak
Badai tersebut, dengan kecepatan angin melebihi 120 km/jam, menghancurkan rumah, tanaman, dan mata pencaharian, menyebabkan banjir dan tanah longsor yang parah, terutama di provinsi pegunungan dan dataran tengah Vietnam Utara.
Hal ini juga berdampak besar pada kehidupan anak-anak, keluarga, dan masyarakat yang sangat rentan.
Dalam menghadapi bencana alam, anak-anak termasuk yang paling terdampak, karena topan tersebut telah menyebabkan keluarga-keluarga mengungsi, menutup sekolah-sekolah, mengganggu layanan kesehatan, dan meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air.
Ketika bencana melanda, orang dewasa mungkin pulih lebih cepat, tetapi anak-anak lebih terdampak, dengan konsekuensi yang dapat berlangsung seumur hidup.
UNICEF menyebutkan anak-anak membutuhkan nutrisi, layanan kesehatan, permainan, pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang yang tepat untuk berkembang sepenuhnya.
"Namun, bencana mengganggu makanan, layanan kesehatan, dan vaksinasi, yang berdampak parah pada perkembangan otak dan fisik," bunyi pernyataan UNICEF.
Ketakutan yang disebabkan oleh bencana alam dapat menghantui anak-anak seumur hidup jika mereka tidak menerima intervensi dan dukungan yang tepat waktu.
Hingga 11 September, laporan pemerintah mengonfirmasi 325 orang meninggal atau hilang, termasuk 24 anak-anak, dan 141.469 rumah rusak.
Badai tersebut menghancurkan infrastruktur penting, termasuk listrik, sistem air, dan telekomunikasi.
Baca Juga: Trah Soekarno Mendapat Kursi DPR, Romy Soekarno Menggantikan Sri Rahayu dan Arteria Dahlan
Sebagai akibat langsungnya, 400.000 rumah tangga tidak memiliki akses ke air bersih karena pemadaman listrik yang meluas yang berdampak pada fasilitas air.