Gotong royong sebagai nilai luhur dan merupakan inti dari ideologi Pancasila merupakan faktor kekuatan bagi masyarakat untuk bertahan dalam Covid-19.
“Terlepas dari apakah Covid itu merupakan senjata biologi atau bahkan merupakan perang itu sendiri, bertahan hidup dalam krisis harus bertumpu pada ideologi. Ideologi harus menjadi senjata yang nyata bagi keberlangsungan hidup negara, bangsa dan masyarakatnya,“ tegas Putut Prabantoro.
Perubahan iklim (climate change), dijelaskan lebih lanjut, juga menjadi faktor pengubah masa depan sebuah ideologi.
Perubahan iklim ekstrim yang terjadi di jazirah Arab dan Afrika akan berdampak pada nilai-nilai luhur yang selama ini dipegang erat masyarakat di sana.
Jazirah Arab yang sebelum ini tidak pernah hujan, banjir dan bersalju, sekarang masyarakatnya mengalami dan sekaligus menghadapi perubahan alam itu.
Pilihan dari perubahan alam tersebut adalah, bertahan hidup (survival) dengan cara menyesuaikan diri atau harus menghadapi kehancuran oleh alam karena tidak mampu menghadapi dan berpegang pada ideologi lama.
“Pertanyaannya adalah, apakah perubahan alam tersebut akan memengaruhi atau bahkan mengubah nilai-nilai luhur, budaya, kepercayaan, keyakinan yang menjadi dasar ideologi negara-negara di jazirah Arab? Apakah ini berarti, perubahan yang terjadi di Jazirah Arab akan memengaruhi masyarakat negara-negara lain yang berkiblat ke Arab. Yang dihadapi adalah alam dan bukan politik buatan manusia ?“ urai Taprof Lemhannas tersebut.
FAKTOR LAIN
Selain kedua faktor itu, beberapa faktor lain yang memengaruhi perluasan makna dan menentukan masa depan makna ideologi antara lain perang antara Rusia dan Ukraina yang memicu perlombaan senjata dunia, hegemoni China atas kekuatan keuangannya, peningkatan penganut atheis yang terjadi di beberapa negara Arab dalam satu dekade ini, dan juga ledakan penduduk dunia pada tahun 2050.
Menurut Putut Prabantoro, populasi dunia akan mendekati 10 miliar orang pada tahun 2050. Ledakan penduduk ini akan memicu krisis hebat pangan, air dan energi seluruh dunia.
Sebagai akibatnya, terjadi pencarian atau bahkan perebutan sumber pangan, air dan energi yang tanda-tandanya telah dimulai sejak sekarang.
Ini masalah keberlangsung hidup suatu bangsa dari sebuah negara.
Indonesia yang dikenal dengan tiga kekayaan itu akan menjadi destinasi dari negara hegemoni yang mencari sumber pangan, air dan engergi bagi bangsanya. Apakah Indonesia akan bertahan?
Ideologi juga akan dipengaruhi oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informatika, internet of things (IOT) dan artificial intelligence (AI).
Putut Prabantoro mempertanyakan, apakah artificial intelligence memerlukan ideologi? Jika sebagaian dunia diganti oleh artificial intelligence yang tidak membutuhkan ideologi, lalu nilai-nilai luhur, keyakinan, kepercayaan, budaya, apakah akan dibuang atau ikut ditanamkan sesuai dengan ideologi si pembuatnya? Atau ditanam sesuai dengan kepentingan si pembuatnya tanpa peduli dengan ideologi? Apakah ini berarti ideologi akan menghilang seiring dengan berkembangnya artificial intelligence?
Untuk menghadapi perbagai ancaman yang gejalanya sekarang sudah nampak sekarang, ideologi tidak cukup hanya bernilai filosofis. Ideologi harus bernilai praksis dan pragmatis.
Artikel Terkait
Bersama STKIP Melawi IKIP PGRI Pontianak Adakan FGD Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum Merdeka
Gubenur Lemhannas: Pancasila Benteng Indonesia Hadapi Pertarungan Global
Ternyata Pancasila Sudah Digali oleh Soekarno Sejak 1918 dan Bukan di Ende
Presiden: Pancasila Fondasi Indonesia Berhasil Hadapi Krisis Global
Berbusana Adat Kesultanan Deli, Presiden Pimpin Upacara Peringatan Harlah Pancasila di Monas
AM Putut Prabantoro: Ini Tiga Kriteria yang Dibutuhkan Pemimpin Indonesia 2045