SBY Bongkar Strategi Prabowo Hadapi Tarif Impor AS, Pilih Jalur Negosiasi, Bukan Retaliasi

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 8 April 2025 | 20:40 WIB
Potret Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) saat bersama Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto (kiri).  (Instagram @presidenyudhoyonoalbum)
Potret Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) saat bersama Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto (kiri). (Instagram @presidenyudhoyonoalbum)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti langkah Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto, dalam menghadapi kebijakan tarif impor baru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Menurut SBY, Prabowo telah mengambil langkah yang tepat dengan memilih jalur diplomasi ketimbang retaliasi atau tindakan balasan.

Baca Juga: Era AI Makin Gencar, Bill Gates Ramalkan Dokter dan Guru Terancam Hilang Dalam 10 Tahun ke Depan

"Kebijakan dan langkah-langkah yang dijalankan oleh pemerintah menghadapi tarif 32 persen dari Presiden AS Donald Trump, saya nilai baik dan tepat," kata SBY melalui akun media sosialnya, @SBYudhoyono, Selasa, 8 April 2025.

"(Presiden Prabowo) lebih memilih negosiasi daripada retaliasi," lanjutnya.

SBY juga mengungkap bahwa Prabowo saat ini tengah menerapkan strategi dual track atau dua jalur dalam menghadapi tantangan ini.

Strategi tersebut, menurutnya, mencakup komunikasi intensif dengan para pemimpin ASEAN dan pengiriman tim negosiasi ke Washington DC, Amerika Serikat.

Di sisi lain, Indonesia juga mengandalkan kekuatan ekonomi regional sebagai sandaran.

Baca Juga: Samsung Luncurkan Galaxy Tab S10 FE Series, Tablet Canggih dengan Fitur AI dan Desain Premium

"Ingat, ASEAN bukan hanya menjadi komunitas ekonomi, tetapi juga pasar bersama di tengah tantangan berat untuk menembus pasar global," kata SBY.

SBY juga menekankan pentingnya sinergi antara otoritas moneter dan fiskal guna menjaga stabilitas rupiah dan pasar saham nasional.

Ia mengingatkan bahwa jika semuanya diserahkan sepenuhnya ke mekanisme pasar, maka bisa muncul tekanan berlebihan terhadap ekonomi nasional.

"Di tengah gonjang-ganjing pasar saham dan mata uang, nilai rupiah dan saham kita bisa diganjar secara berlebihan hingga melampaui batas psikologis," ujarnya.

"Kita punya banyak pengalaman tentang hal ini di masa lalu," tandas SBY. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X