Di Israel utara, serangan roket dari Lebanon memaksa warga setempat untuk berlindung di tempat-tempat aman, menambah ketegangan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Doa Forkoma PMKRI Terkabul, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Diangkat Sebagai Kardinal Baru
Serangan Israel selama beberapa pekan terakhir telah menghancurkan struktur kepemimpinan Hizbullah, termasuk tewasnya Sekretaris Jenderal Hassan Nasrallah pada 27 September akibat serangan udara.
Selain itu, ratusan warga Lebanon tewas, termasuk petugas penyelamat, sementara 1,2 juta warga Lebanon -- sekitar seperempat populasi negara tersebut -- terpaksa mengungsi.
Israel dan Hizbullah telah saling serang sejak Oktober tahun lalu, bersamaan dengan perang yang berlangsung di Gaza antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Israel menyatakan bahwa tujuan dari kampanye pengebomannya adalah untuk memastikan keamanan puluhan ribu warga Israel utara yang terus menghadapi serangan roket dari Hizbullah.
Di sisi lain, Iran, sebagai pendukung utama Hizbullah dan Hamas, turut terlibat dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel pekan lalu.
Meski demikian, serangan tersebut tidak menimbulkan kerusakan besar.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden Amerika Serikat Joe Biden meminta Israel untuk mempertimbangkan opsi selain menyerang ladang minyak Iran sebagai bagian dari respons terhadap serangan rudal tersebut.
Jenderal Michael Kurilla, komandan tertinggi AS di Timur Tengah, dijadwalkan akan tiba di Israel untuk membahas perkembangan situasi. ***
Artikel Terkait
Paus Fransiskus Sampaikan Pesan Perdamaian di Tengah Konflik Israel-Hamas
Hamas Mengonfirmasi Kematian Ismail Haniyeh dalam Serangan di Teheran Iran, Siapa Pelakunya?
Profil Pendidikan Ismail Haniyeh, Pemimpin Hamas yang Tewas di Teheran
Khamenei Diberi Keamanan Tinggi Setelah Israel Klaim Bunuh Pemimpin Hizbullah
Siapa Hashem Safieddine? Calon Pemimpin Hizbullah setelah Kehilangan Nasrallah
Hassan Nasrallah Tewas, Begini Cara Israel Melacak dan Membunuh Pemimpin Hizbullah Itu