Hadiri Beijing International Film Festival, Arief Rosyid Minta Pemerintah Lebih Mendukung Ekosistem Perfilman di Indonesia

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 23 April 2024 | 09:41 WIB
Arief Rosyid Hasan menghadiri acara 14th Beijing International Film Festival (BJIFF), sebuah festival tahunan yang menyatukan para sineas dari berbagai penjuru dunia. Ia adalah Eksekutif Produser dari Film LAFRAN.  (Dok. Pontianak Globe)
Arief Rosyid Hasan menghadiri acara 14th Beijing International Film Festival (BJIFF), sebuah festival tahunan yang menyatukan para sineas dari berbagai penjuru dunia. Ia adalah Eksekutif Produser dari Film LAFRAN. (Dok. Pontianak Globe)

Lafran tumbuh menjadi pemberontak dan pindah ke pelbagai sekolah, bahkan sempat menjadi petinju jalanan.

Sementara abangnya, pujangga Sanusi Pane (Aryo Wahab), dan Armijn Pane (Alfie Afandi), mendorong Lafran agar energinya disalurkan dalam bentuk karya.

Saat pendudukan Jepang, Lafran sempat ditahan karena membela para peternak sapi.

Baca Juga: PDI Perjuangan: Film Dirty Vote Suara Kebenaran Dinamika Politik di Lapangan

Ia kemudian dibebaskan setelah ayahnya menebus dengan menyerahkan bus Sibual-buali kepada tentara Jepang.

Semasa kuliah di Jogjakarta, Lafran gelisah melihat kaum muslim terpelajar yang terlalu larut dalam pemikiran sekular, dan melupakan ibadah.

Ia pun mendirikan HMI sebagai wadah untuk berjuang dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan serta nonpolitik.

Didukung oleh kekasihnya, Dewi (Lala Karmela), ia pun merelakan HMI dipimpin mahasiswa yang bukan dari Sekolah Tinggi Islam (STI), sebelum kemudian meminta MS Mintaredja (Firandika) dari UGM untuk memimpin HMI.

Ucapan "Saya Lillahi Taala untuk Indonesia..." dari Lafran Pane, sosok yang memiliki daya magis kuat, kini menjadi perekat kuat bagi organisasi yang dibentuknya, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI).

Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI telah menjelma menjadi organisasi mahasiswa Islam yang memberikan kontribusi besar dalam memperkuat fondasi keislaman dan keindonesiaan.

Selama 76 tahun, HMI telah menjadi penjaga dua nilai agung, yaitu nilai keumatan dan kebangsaan.

Ini membuka jalan bagi terwujudnya Islam yang rahmatan lil 'alamin, sebuah Islam yang ramah, toleran, dan menghargai persatuan serta perdamaian. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X