Menurut Eddy Witanto, budaya Peranakan Tionghoa, sebagai bagian integral dari warisan budaya Indonesia.
Warisan tersebut memegang peran penting dalam membentuk identitas Indonesia.
Keberadaannya tercermin jelas mulai dari aspek bahasa, arsitektur, kain tradisional, kuliner, ekonomi, hingga menjadi bagian dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: AlPeKaJe Dorong Inklusifitas: Beri Tempat bagi Kelompok Rentan di Masyarakat
Namun, minimnya informasi mengenai budaya peranakan Tionghoa saat ini dapat memicu ketidakpahaman serta miskonsepsi mengenai esensi dan peranannya dalam keragaman budaya Indonesia.
“Budaya peranakan Tionghoa merupakan produk budaya hasil akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya lokal Indonesia, misalnya batik pesisir pantai utara Jawa seperti di daerah Lasem, Cirebon, dan Pekalongan atau di bidang kuliner, seperti wedang ronde, bakso, dan sebagainya,” kata Sinolog dari Universitas Indonesia itu.
Ia juga menambahkan, akulturasi budaya peranakan Tionghoa yang terbentuk di suatu tempat di Indonesia sangat dipengaruhi derajat akulturasi budaya antara budaya peranakan Tionghoa dan budaya lokal setempat.
Misalnya orang-orang Tionghoa yang sudah sangat lama menetap di pantai utara Jawa tentu akan menghasilkan corak budaya peranakan Tionghoa yang berbeda dari warga Tionghoa di Kalimantan Barat atau Sumatera yang baru terbentuk mulai abad ke-18an.
Di luar konteks budaya, warga Tionghoa telah aktif di berbagai sektor di Indonesia, bukan hanya sektor perdagangan semata, namun sayangnya hal ini yang jarang terekspos oleh publik.
Eddy mencontohkan, Dokter Oen Boen Ing yang pada tahun 1976 menerima Satya Lencana Kebaktian Sosial dari pemerintah Indonesia atas jasa dan pengabdiannya yang tanpa pamrih kepada masyarakat.
Dalam bidang militer, Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie Tjeng Tjoan atau dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma adalah seorang perwira Angkatan Laut RI di masa penjajahan Jepang yang menjalankan berbagai misi-misi menembus blokade Belanda.
John Lie mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009 di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sementara itu, Selly Gouw menguraikan bahwa, di era sekarang, di tengah kepopuleran kata chindo di media sosial, budaya peranakan Tionghoa ternyata mengalami berbagai tantangan, mulai dari cultural gap, perbedaan muatan pengetahuan soal budaya peranakan Tionghoa antara generasi tua dan generasi sekarang hingga pelestarian budaya peranakan Tionghoa melalui informasi yang tepat.
Artikel Terkait
10 Quote Happy Chinese New Year 2023 untuk Update Tiktok, WhatsApp, Facebook, Twitter dan Instagram
Gong Xi Fa Cai atau Gong Xi Fat Cai Artinya Apa ? Happy Chinese New Year 2023 Untuk Sobat Globe yang Merayakan
20 Misionaris Katolik Terbunuh Sepanjang Tahun 2023
Momentum Kebahagiaan dan Kreativitas, Perayaan Misa Natal dan Pembukaan Tahun Ajaran Baru di Persekolahan Katolik Nyarumkop
RIP! Berita Duka: Tokoh Musik Liturgi Katolik Kelahiran Jerman, Romo Karl-Edmund Prier, Tutup Usia pada Usia 86 Tahun, Ini Sejumlah Maha Karya-nya
Wejangan dari Kardinal Suharyo: Prabowo Menyambut Saran untuk Umat Katolik dan Rakyat Indonesia