Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, pesawat Pilatus Porter PK-RCY milik AMA Air lepas landas dari Bandara Wamena pada Kamis sekitar pukul 06.30 WIT menuju Lapangan Terbang Balinggama dengan membawa seorang pilot dan tujuh penumpang.
Pesawat mendarat sekitar pukul 06.46 WIT. Sebelum penerbangan, kondisi cuaca dilaporkan baik dan tidak ada informasi mengenai gangguan keamanan di sekitar bandara tujuan.
Namun, sesaat setelah pesawat menurunkan penumpang dan muatan, komunikasi dengan lapangan terbang terputus. Beberapa jam kemudian, otoritas menerima laporan bahwa pesawat diserang dan dibakar oleh kelompok bersenjata.
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengklaim kelompoknya bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Menurutnya, pesawat AMA Air diduga mengangkut personel maupun logistik militer Indonesia menuju wilayah operasi mereka.
TPNPB juga mengklaim telah melarang seluruh penerbangan sipil memasuki kawasan yang mereka sebut sebagai zona konflik serta mengancam akan menyerang pesawat lain yang dianggap mendukung operasi aparat keamanan.
Menanggapi klaim tersebut, Direktur PT AMA, Bob Kayadu, membantah keras tuduhan bahwa pesawatnya mengangkut personel maupun perlengkapan militer.
Menurut Bob, seluruh muatan pesawat dapat diverifikasi melalui manifes penerbangan dan sesuai prosedur operasional perusahaan, AMA tidak pernah mengangkut personel militer, senjata, maupun amunisi.
"Silakan dicek melalui manifes. Kami tidak pernah membawa barang-barang militer," katanya.
Pernyataan senada disampaikan Uskup Jayapura sekaligus Komisaris PT AMA, Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You. Ia menegaskan AMA telah beroperasi selama 67 tahun untuk melayani misi kemanusiaan, seperti mengangkut tenaga kesehatan, guru, rohaniwan, logistik, serta kebutuhan masyarakat di wilayah pedalaman Papua.
Menurutnya, penembakan terhadap pilot dan pembakaran pesawat merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan serta menjadi pukulan berat bagi pelayanan kemanusiaan di Papua.
Sementara itu, Pemerintah Amerika Serikat menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia terkait insiden tersebut. Melalui Departemen Luar Negeri, pemerintah AS menyebut keselamatan warga negaranya menjadi prioritas dan memastikan komunikasi dengan otoritas Indonesia maupun keluarga korban terus dilakukan.
Di sisi lain, Koops TNI Habema berhasil mengevakuasi jenazah Nicholas F. Goselin pada Jumat (3/7/2026) melalui operasi khusus yang melibatkan dua helikopter Caracal. Proses evakuasi dilakukan di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 2.292 meter di atas permukaan laut yang hanya dapat dijangkau melalui jalur udara.
Selain mengevakuasi korban, aparat keamanan juga melakukan penyisiran serta pengejaran terhadap para pelaku penyerangan.
Seluruh tujuh penumpang yang berada di dalam pesawat dilaporkan selamat. Mereka merupakan warga asli Papua yang berhasil menyelamatkan diri saat insiden terjadi.