Jadi, yang dibagi bukan hanya porsi makanan. Kesempatan ekonominya juga harus dibagi.
Karena itu, pergantian kepemimpinan BGN seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi arsitektur MBG secara lebih fundamental.
Jangan hanya mencari dapur fiktif, menutup SPPG bermasalah, atau menambah aturan dan sertifikasi. Semua itu diperlukan, tetapi belum tentu cukup untuk menjawab persoalan yang berulang.
Jika kasus keracunan terus terjadi, evaluasi juga perlu menyentuh skala produksi.
Jika UMKM sulit masuk, evaluasi kebutuhan modalnya.
Jika manfaat ekonomi terkonsentrasi, ubah model distribusi kesempatan usahanya.
Saya membayangkan MBG ke depan tidak identik dengan dapur besar yang memproduksi ribuan porsi. Sebaliknya, program ini dapat ditopang oleh lebih banyak dapur berkapasitas kecil yang tersebar dekat sekolah, dikelola masyarakat lokal, diawasi dengan standar nasional, dan sebisa mungkin menggunakan bahan baku dari wilayah sekitar.
Dengan begitu, kita bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus: risiko lebih mudah dikendalikan dan manfaat ekonomi lebih merata.
Jadi, jangan hanya bertanya: dapur mana yang harus ditutup?
Mulailah bertanya: apakah dapurnya memang harus sebesar itu?
Pecah dapurnya. Perketat standarnya. Pendekkan distribusinya. Perbanyak pelakunya.
Dapur berkapasitas 3.000 porsi mungkin terlihat efisien. Namun, jika enam dapur berkapasitas 500 porsi membuat proses lebih mudah dikontrol sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak pelaku usaha, mengapa kita tidak berani mencobanya?
MBG jangan menjadi bisnis besar yang hanya bisa dimasuki orang bermodal besar. Uang negara yang begitu besar seharusnya bukan hanya membagi jutaan porsi makanan, tetapi juga membagi kesempatan ekonomi kepada sebanyak mungkin rakyat Indonesia. ***
Artikel Terkait
Viral Dugaan Modus Gesek Nomor Rangka Mobil di Parkiran GBK, Polisi Turun Tangan
Optik Pontianak Rayakan 17 Tahun dengan Aksi Sosial dan Perluasan Usaha
BPIH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp107,3 Juta, tapi Bipih Jemaah Turun
Warga Sumbar Kirim 5 Ton Rendang untuk Korban Gempa NTT, Terinspirasi Bantuan pada 2009
Pelajar Tewas Tertemper KRL di Kalideres, Perjalanan Lintas Tangerang Sempat Terganggu
Dua Insiden Tertemper Ganggu Perjalanan KRL Bogor dan Tangerang, 18 Perjalanan Terdampak