Dalam situasi seperti ini, kemampuan menciptakan konten yang menarik bukan lagi sekadar nilai tambah. Ia telah menjadi kompetensi inti seorang pekerja pers.
Inilah sebabnya mengapa ruang redaksi modern kini membutuhkan kemampuan yang jauh melampaui keterampilan menulis.
Wartawan harus memahami visual storytelling. Harus mampu berbicara di depan kamera. Harus menguasai editing video.
Harus memahami optimasi platform digital. Harus mampu membaca data audiens. Bahkan mulai akrab dengan kecerdasan buatan untuk mempercepat proses produksi tanpa mengorbankan akurasi.
Mereka bukan hanya reporter.
Mereka adalah produser konten jurnalistik.
Mereka adalah kreator informasi.
Mereka adalah Creator Pers.
Sayangnya, perubahan besar ini belum sepenuhnya diikuti oleh cara kita membangun ekosistem profesi. Banyak lembaga pendidikan jurnalistik masih menyiapkan lulusan untuk ruang redaksi yang sudah berubah. Banyak perusahaan media masih mengukur produktivitas dengan paradigma lama. Bahkan sebagian regulasi masih memandang wartawan sebagai profesi yang bekerja hanya untuk media konvensional.
Padahal, hari ini masyarakat tidak lagi mencari berita berdasarkan merek media. Mereka mencari informasi melalui platform. Berita pertama yang mereka lihat bisa datang dari TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, atau WhatsApp. Bagi generasi muda, halaman depan media bukan lagi beranda situs berita, melainkan halaman “For You”.
Kalau distribusi informasi sudah berubah total, mengapa kita masih mendefinisikan profesinya dengan cara lama?
Mengakui istilah Creator Pers bukan berarti menghilangkan identitas wartawan. Justru sebaliknya. Istilah ini mempertegas bahwa profesi pers telah berkembang mengikuti perubahan teknologi, tanpa meninggalkan fondasi etikanya.
Kita juga harus berhenti mempertentangkan pers dengan ekonomi kreatif. Pers adalah bagian dari ekonomi kreatif. Pers menghasilkan kekayaan intelektual. Pers menciptakan karya orisinal. Pers membangun narasi, visual, audio, dan pengalaman digital yang dikonsumsi jutaan orang setiap hari. Aktivitas itu adalah proses kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.
Tentu, Creator Pers tidak boleh terjebak menjadi pemburu algoritma semata. Ketika perhatian menjadi mata uang baru, godaan untuk mengejar viralitas dengan mengorbankan akurasi selalu ada. Di sinilah perbedaan paling mendasar antara Creator Pers dan content creator biasa. Creator Pers boleh memahami algoritma, tetapi tidak boleh tunduk kepadanya. Ia memanfaatkan platform digital sebagai saluran distribusi, bukan menjadikan algoritma sebagai penentu kebenaran.
Masa depan industri pers tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling banyak menulis berita. Masa depan pers akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu mengubah fakta menjadi konten yang dipercaya, menarik, mudah dipahami, dan mampu menjangkau publik seluas mungkin.
Artikel Terkait
CEO Promedia Agus Sulistriyono Sebut Hari Pers Nasional Momen Penting untuk Menghargai Dedikasi Jurnalis di Indonesia
CEO Promedia Agus Sulistriyono Tegaskan, Kalau Tata Kelola MBG Benar, Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Bukan Mimpi
Roadshow Terakhir Promedia di Tasikmalaya, CEO Agus Sulistriyono Serukan Optimisme Media
Promedia Group Gandeng Manava Collective Perkuat Program Pemberdayaan Masyarakat
Promedia Group Audiensi dengan Bakom RI, Bahas Penguatan Komunikasi Publik Melalui Media Lokal
Mahasiswa Universitas Djuanda Bogor Kunjungi Promedia Group, Pelajari Ekosistem Industri Media Digital