Creator Pers: Evolusi Wartawan di Era Attention Economy

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 30 Juni 2026 | 23:32 WIB
Agus Sulistriyono | CEO Promedia Group (Dok. Promedia)
Agus Sulistriyono | CEO Promedia Group (Dok. Promedia)

Sebaliknya, seorang wartawan tetap terikat pada verifikasi, keberimbangan, independensi, kepentingan publik, dan kode etik jurnalistik. Nilai-nilai itulah yang menjaga agar informasi tidak berubah menjadi sekadar komoditas.

Karena itu, menurut saya, istilah “wartawan” saja tidak lagi cukup untuk menggambarkan profesi ini.

Baca Juga: Pendaftaran Bakal Calon Ketua DPD Demokrat Kalbar Dibuka 3-9 Juli

Profesi ini telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih luas.

Saya menyebutnya Creator Pers.

Creator Pers adalah pekerja pers yang menghasilkan, mengemas, dan mendistribusikan karya jurnalistik dalam berbagai format digital dengan tetap berpedoman pada kode etik jurnalistik.

Istilah ini bukan sekadar permainan kata. Ia adalah pengakuan terhadap perubahan besar yang sedang berlangsung di industri media.

Selama bertahun-tahun, industri pers sering memosisikan diri seolah berbeda dengan industri kreatif.

Seolah-olah media hanya memproduksi berita, sementara industri kreatif menghasilkan konten.

Padahal jika dilihat dari proses produksinya, media hari ini adalah salah satu industri kreatif terbesar di Indonesia.

Produk yang dihasilkan media bukan lagi sekadar teks. Yang diproduksi setiap hari adalah video pendek, video panjang, podcast, infografik, carousel, siaran langsung, newsletter, hingga konten interaktif. Semua itu merupakan karya kreatif yang lahir dari proses editorial.

Perbedaannya hanya satu. Creator Pers menghasilkan karya kreatif yang berbasis fakta dan verifikasi.

Perubahan ini semakin nyata sejak perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal di era digital. Kita hidup dalam apa yang sering disebut sebagai attention economy. Nilai sebuah konten tidak lagi hanya diukur dari kualitas produksinya, tetapi juga dari kemampuannya merebut perhatian publik di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti.

Pers tidak mungkin menghindari kenyataan ini.

Jika berita tidak mampu menarik perhatian, maka berita itu tidak akan dibaca. Jika video jurnalistik gagal menghentikan jempol pengguna media sosial, maka informasi yang benar akan kalah oleh konten yang lebih sensasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X