Ketika kadar air menurun, gambut menjadi sangat mudah terbakar.
Berbeda dengan kebakaran di lahan biasa, api pada gambut dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah.
Bara api dapat terus menyala tanpa terlihat dari permukaan dan muncul kembali di lokasi lain.
Kondisi inilah yang sering membuat proses pemadaman berlangsung lama dan membutuhkan sumber daya besar.
Ancaman yang Harus Diwaspadai Bersama
Para ahli lingkungan telah lama mengingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.
Musim kemarau yang lebih panjang, suhu yang lebih tinggi, serta berkurangnya curah hujan dapat menciptakan kondisi yang mendukung munculnya kebakaran.
Di sisi lain, aktivitas manusia masih menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian.
Pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian saat beraktivitas di kawasan hutan, maupun pengelolaan lahan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan dapat memperbesar risiko terjadinya kebakaran.
Karena itu, pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas pemadam atau pemerintah.
Upaya mencegah karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari masyarakat desa, pelaku usaha, komunitas lingkungan, hingga pemerintah daerah.
Belajar dari Pengalaman
Berbagai upaya telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi risiko karhutla.
Mulai dari patroli terpadu, pembangunan sekat kanal di kawasan gambut, pembentukan kelompok masyarakat peduli api, hingga peningkatan sistem pemantauan titik panas.
Artikel Terkait
Sengketa Lahan 16,4 Hektare: Jusuf Kalla Tantang Mafia Tanah di Pengadilan
Alih Fungsi Lahan Diduga Jadi Aktor Utama Fenomena ‘Gunung Menangis’
Prabowo Tantang Mafia Lahan Sawit dan Tambang: Jangan Coba Main Belakang
Ance Prasetyo Desak KLHK Usut Lahan Kompensasi Tambang Emas
Hashim Tegaskan Lahan BUMN Harus untuk Rumah Rakyat
Lahan di Kubu Raya Makin Melejit, Mending Nabung Beli Tanah Kavling atau Saham Properti?