Harga Beras Turun Dua Bulan Berturut, Prabowo Panen Raya Sebut Bukti Petani dan Pemerintah Berhasil Jaga Pangan!

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 5 November 2025 | 12:36 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto menggunakan alat panen padi modern saat panen raya bersama petani, simbol kemajuan teknologi dan kemandirian pangan Indonesia. (Dok. Kementan)
Presiden RI Prabowo Subianto menggunakan alat panen padi modern saat panen raya bersama petani, simbol kemajuan teknologi dan kemandirian pangan Indonesia. (Dok. Kementan)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Harga beras kembali menjadi penopang utama stabilitas pangan nasional.

Memasuki Oktober 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa beras mengalami deflasi untuk kedua kalinya secara beruntun, melanjutkan tren penurunan harga yang telah terjadi sejak September.

Baca Juga: Dari Sawit, Padi dan Makna dalam Momen Pulkam

Meski inflasi umum tercatat 0,28 persen, harga beras justru bergerak berlawanan arah.

“Deflasi beras pada Oktober 2025 lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menegaskan bahwa penurunan harga kali ini tidak hanya berlanjut, tetapi juga semakin kuat.

Secara historis, tren ini terbilang langka.

Pudji menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir, beras mengalami inflasi pada Oktober 2022 dan 2023, sementara deflasi tercatat pada 2021, 2024, dan 2025.

Artinya, Oktober 2025 menjadi periode di mana stabilitas harga pangan benar-benar terjaga, dengan beras berperan besar meredam tekanan inflasi.

Dari total 38 provinsi, 23 provinsi mengalami deflasi beras, 3 provinsi stabil, dan hanya 12 provinsi mencatat inflasi, menandakan penurunan harga berlangsung luas di berbagai wilayah.

Baca Juga: Resep Ayam Chili Padi Sederhana, Begini Cara Memasaknya

Penurunan ini juga terjadi serentak di semua segmen pasar.

Di tingkat penggilingan, harga beras turun rata-rata 0,54 persen, dengan penurunan 0,71 persen pada beras premium dan 0,46 persen pada beras medium.

Di tingkat grosir, harga turun 0,18 persen, sedangkan di tingkat eceran terjadi deflasi 0,27 persen.

Kompaknya penurunan dari hulu hingga hilir ini menunjukkan efektivitas kebijakan stabilisasi pasokan, distribusi, dan intervensi pemerintah yang kini berjalan optimal.

Jika dibandingkan dengan Oktober 2024, perbedaan terlihat jelas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB

Guru di Bojonegoro Lari ke Sekolah Demi Hemat BBM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:13 WIB
X