Dari Sawit, Padi dan Makna dalam Momen Pulkam

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Jumat, 2 Agustus 2024 | 10:30 WIB
Bertnego Balaraman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris San Agustin  (Bertnego)
Bertnego Balaraman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris San Agustin (Bertnego)

PONTIANAKGLOBE.COM, Media Center San Agustin| Jumat, 02 Agustus 2024 - Setelah berminggu-minggu bergelut dengan rutinitas kampus yang padat, aroma tanah basah dan udara segar di kampung halaman terasa seperti oase yang menenangkan.

Setibanya di rumah, saya disambut hangat oleh orang tua, yang senyumannya sehangat matahari pagi.

Pagi hari di kampung dimulai dengan suara ayam berkokok dan embun yang masih melekat di dedaunan.

Setelah sarapan sederhana tapi lezat, saya mengambil waktu sejenak untuk membaca Alkitab di bawah pohon rindang di halaman belakang.

Salah satu ayat favorit saya, Mazmur 23:1, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” mengingatkan saya akan kedamaian dan pemeliharaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.

Ayat ini memberikan ketenangan di tengah-tengah hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari.

Kebun sawit dan jalan setapak

Setelah itu, saya membantu orang tua pergi ke kebun sawit.

Kami berjalan bersama melewati jalan setapak yang mengarah ke kebun, mendengarkan suara burung berkicau, dan merasakan sentuhan angin yang lembut.

Panen sawit menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Setiap buah sawit yang jatuh ke dalam keranjang terasa seperti hasil kerja keras yang memuaskan.

Saya dan ayah bergantian mengangkat tandan sawit yang berat ke dalam gerobak, sementara ibu menyiapkan makanan ringan untuk kami nikmati di sela-sela pekerjaan.

Setiap kali saya merasa lelah, saya mengingat ayat yang saya baca tadi pagi, dan itu memberikan saya kekuatan baru.

Sinar matahari

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X