Banda Neira Tak Lagi Sekadar Surga Menyelam, Kini Jadi Contoh Ekonomi Pesisir Berkelanjutan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 5 November 2025 | 10:13 WIB
Masyarakat Banda Neira mengelola ekowisata dan konservasi laut secara mandiri, menjaga harmoni antara alam, budaya, dan kehidupan pesisir. (Instagram @seagrapes.travel)
Masyarakat Banda Neira mengelola ekowisata dan konservasi laut secara mandiri, menjaga harmoni antara alam, budaya, dan kehidupan pesisir. (Instagram @seagrapes.travel)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menempatkan Banda Neira sebagai proyek percontohan integrasi konservasi laut, arkeologi, dan budaya maritim melalui program Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA).

Baca Juga: Paket Wisata 3B Diperkuat, Kemenpar Siapkan Rute Laut Banyuwangi–Lovina

“Banda Neira kami jadikan kawasan prioritas karena memiliki kekayaan ekosistem laut dan nilai sejarah tinggi. Kami ingin membangun model pengelolaan laut yang lestari sekaligus mensejahterakan,” ujar Dirjen Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, di Jakarta (26/10/2025).

Dalam rangka HUT ke-26 KKP, diselenggarakan talk show “Pilar Ekonomi Berkelanjutan Masyarakat Pesisir Banda Neira: Integrasi Arkeologi dan Budaya Maritim” di Universitas Indonesia, yang mempertemukan akademisi, pemerintah, dan masyarakat.

Program LAUTRA mencakup 11 provinsi, 20 kawasan konservasi, dan 3 wilayah pengelolaan perikanan dengan total area 8,3 juta hektare. Melalui empat pilar utama — penguatan kelembagaan, pengembangan ekonomi lokal, pembiayaan berkelanjutan (blue financing), dan manajemen terpadu — KKP menargetkan 75 ribu penerima manfaat langsung, termasuk 30% kelompok perempuan pesisir.

Pendanaan dan Kolaborasi Akademik

Program ini didukung tiga skema hibah, mulai dari micro grant Rp150 juta hingga matching grant Rp1,25 miliar, untuk mendukung UMKM pesisir ramah lingkungan.

“Tujuannya agar ekonomi tumbuh tanpa merusak laut,” jelas Enggar Sadtopo, Direktur Jasa Bahari KKP.

Dari sisi akademik, Dr. Muhammad Farid, Rektor Universitas Banda Neira, menyebut pulau ini sebagai “laboratorium hidup” pembangunan berkelanjutan.

Sementara Dr. Kastana Sapanli dari IPB University menilai Banda sebagai bagian penting dari Coral Triangle dan Spice Islands, ideal untuk pengembangan eco-diving, wisata sejarah rempah, dan agrowisata pala.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pentingnya keseimbangan antara perlindungan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi biru berkelanjutan sebagai fondasi pembangunan maritim nasional.

Saat senja tiba, langit jingga menaungi Banda Neira. Di pantai, anak-anak bermain bola, ibu-ibu menjemur pala, sementara Gunung Api Banda berdiri kokoh di kejauhan.

Di sinilah harmoni itu hidup — antara alam yang dijaga, budaya yang dirawat, dan ekonomi yang tumbuh dari akar lokal.

Banda Neira bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi contoh nyata bahwa keberlanjutan bisa tumbuh dari kearifan dan gotong royong.

Banda mengingatkan satu hal penting: menjaga alam berarti menjaga masa depan. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X