Karena itu, redefinisi manajemen media Polri menjadi kebutuhan mendesak di era disrupsi informasi.
Ia menilai, komunikasi publik kini semakin kompleks karena setiap kanal digital memiliki karakter dan generasi pengguna yang berbeda.
“Media memerlukan pembaca, pengikut, dan subscriber. Sebaik apa pun konten, jika tidak dibaca dan tidak berdampak, maka tidak ada artinya,” tegasnya.
Putut menambahkan, kekuatan isu dan opini publik juga bergantung pada teknologi dan kemasan pesan yang tepat.
“Sekarang, jempol netizen bisa lebih tajam daripada guillotine,” ujarnya.
Di akhir paparannya, Putut menekankan bahwa Polri memiliki semua modal untuk membangun citra positif—dari sumber daya manusia, jaringan, hingga teknologi.
“Gunakan YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, dan podcast sebagai sarana menciptakan tone positif Polri. Karena di era ini, bukan siapa yang paling kuat yang dipercaya publik, tapi siapa yang paling jujur,” pungkasnya. ***
Artikel Terkait
AM Putut Prabantoro: Ini Tiga Kriteria yang Dibutuhkan Pemimpin Indonesia 2045
Putut Prabantoro: Karena Dunia Berubah, Ideologi Harus Berwujud dan Berbentuk
AM Putut Prabantoro Tegaskan Pemda di Asia Pasifik Perlu Promosikan Perdamaian Demi Peradaban Dunia
Bayi Dibuang di Kebun Kelapa Kubu Raya Terungkap, Polisi Bongkar Fakta Mengejutkan di Baliknya!
Tiga Pelaku Penyekapan Modus COD Ditangkap, Polisi Bongkar Jaringan
Misteri Kematian Timothy Anugerah, CCTV Lantai 4 Rusak Sejak 2023 Polisi Angkat Bicara